Saturday, December 03, 2005
PERKAWINAN SEJENIS, BENCANA KEMANUSIAAN YANG DILAKNAT

Oleh : Asep Firman Y.

Dalam berita dunia yang dipublikasikan oleh www.bbcindonesia.com edisi 01 Desember 2005 diberitakan bahwa peradilan tertinggi Afrika Selatan telah mensahkan undang-undang perkawinan sesama jenis yang sebelumnya dilarang berdasar undang undang yang sekarang. Pengadilan juga memutuskan untuk mengubah definisi perkawinan dari ikatan antara seorang laki-laki dan perempuan menjadi ikatan antara dua manusia. Alasannya adalah undang undang yang ada sekarang ini mendiskriminasi pasangan homoseksual setelah sepasang lesbian mengajukan banding atas kasus perkawinan mereka. Sebelumnya Mahkamah Agung Afrika Selatan memutuskan bahwa pasangan lesbian Marie Fourie dan Cecilia Bonthuys seharusnya diijinkan menikah, setelah sebelumnya ditolak untuk melakukan pernikahan di gereja oleh Departemen Dalam Negeri. Perlu diketahui bahwa konstitusi Afrika Selatan yang disahkan tahun 1996 merupakan yang pertama di dunia yang secara khusus menghapus diskriminasi pilihan kecenderungan seksual seseorang. Ini dilakukan untuk menjaga HAM walaupun kalangan 'konservatif' di Afrika Selatan menolak

Hal yang menarik untuk dikritisi tentunya selain fakta tentang 'penyimpangan'(baca : homoseksual dan lesbianisme) itu sendiri adalah adanya anggapan bahwa legalisasi perkawinan sesama jenis adalah bagian dari hak asasi manusia yang patut dihormati oleh setiap orang dan ada anggapan bahwa orang yang menolak legalisasi ini adalah konservatif (baca:ketinggalan jaman). Tulisan ini mencoba untuk mendudukan persoalan secara proporsional, jernih dan nyar'i.



Fakta bukan alasan


Kalau kita telusuri sejarah, maka kita akan menemukan bahwa fakta 'perkawinan' sesama jenis pernah terjadi pada masa nabi Luth a.s. yakni kelainan yang ada di tengah-tengah kaum Sodum (asal muasal dari kata sodomi). Mereka lebih menyukai sesama jenis dalam hal kecenderungan biologis daripada lawan jenisnya. Saking bejatnya ketika Allah swt mengutus kepada mereka seorang Rasul yang bermaksud memperbaiki kondisi rusak ini seperti nabi Luth dianggap sebagai orang yang sok suci dan mereka menantangnya untuk mendatangkan adzab dari sang Maha Pencipta. Kemudian Allah SWT menurunkan azabnya berupa goncangan bumi dan hujan batu-batuan. Akhirnya mereka semuanya mati kecuali pengikut setia ajaran nabi Luth. Fakta penyimpangan seperti ini belum pernah ada sepanjang jaman sebelum masa nabi Luth, sebagaimana yang tersurat dalam Al-Qur'an : "Dan Luth ketika ia berkata kepada kaumnya sungguh kalian benar-benar telah mendatangkan kekejian yang tidak ada serbelum kalian satu kaum pun yang melakukannya di alam ini" (Al-Qashash :28). Fakta penyimpangan ini telah terhapuskan dimuka bumi pada zaman nabi Luth a.s. sungguh aneh kalau kemudian ini terjadi pada masa kini yang katanya jaman 'modern'(sok modern).

Alasan bahwa penyimpangan seksual (homoseksual dan lesbian) ini adalah sebuah fakta yang kita tidak bisa menutup mata darinya dan dianggap sebagai 'kodrat alam' yang diciptakan oleh sang Maha Pencipta sehingga tidak mungkin dihapuskan keberadaanya tidak dapat diterima. Saya katakan, kalau ini memang suatu bawaan (qadha) dari Allah yang ada sejak lahir (fitrah) kenapa Allah justru mengazab kaum nabi Luth atau dalam dalam Islam misalnya pelakunya dihukum mati? Jadi kita dapat katakan bahwa ini bukan lah hal yang fitri (qadha), masalahnya kemudian adalah kenapa kelainan ini bisa terjadi? Kenapa tidak yang normal-normal saja?


Menurut penelitian psikiater (Prof.Dr.Dadang Hawari), munculnya penyimpangan seksual ini tidak terjadi secara alamiah begitu saja, tapi ini masalah psikologi (kejiwaan) yang terjadi karena lingkungan yang rusak. Seseorang yang melakukan penyimpangan ini, kemungkinannya ada dua, pertama seseorang mengalami kelainan ini karena trauma masa lalu, misalnya ia pernah jadi korban (maaf) sodomi sehingga ia ingin membalas dendam kepada orang lain atas apa yang terjadi padanya. Makanya seringkali kelainan seksual ini dianggap sebagai 'penyakit menular' dimana ketika seseorang menjadi korban biasanya ia berupaya untuk balas dendam dengan melakukan hal yang sama dan seterusnya. Kedua, kelainan seksual terjadi karena kebosanan terhadap lawan jenis atau karena ia hidup secara terus menerus dilingkungan lawan jenisnya. Penulis pernah mendengar pernyataan seorang selebriti (?) yang dimuat disebuah surat kabar bahwa kebosanan terhadap lawan jenis sering terjadi dikalangan artis khususnya peragawan dan peragawati. Ini dikarenakan terlalu intensifnya interaksi diantara mereka sehingga terjadi kebosanan. Misalnya, pada saat ada even peragaan (baik latihan ataupun bukan) dan mereka harus berganti busana dalam waktu yang singkat karena kejar waktu, mereka lakukan hal ini walaupun harus 'telanjang' dihadapan lawan jenisnya. Karena intensitasnya sering, mereka menjadi bosan dengan pemandangan ini dan mencari 'sensasi' baru dengan melepaskan kecenderungan biologisnya kepada sesama jenis yang mengalami hal serupa (naudzubillah).


Demikian juga ketika seorang hidup di lingkungan lawan jenisnya secara terus menerus bisa menjadikan seseorang tersebut mempunyai kelainan ini. Misalnya dil ingkungan keluarga, ketika anak laki-laki dalam proses pengasuhan dan pembinaannya dicampur dengan anak perempuan maka kecenderungannya adalah akan terjadi masalah, bisa jadi anak laki-laki berprilaku kewanita-wanitaan atau anak perempuan yang ke laki-lakian. Demikian juga pendidikan yang salah di keluarga memberi kontribusi akan hal ini, misalnya ketika sang ayah menginginkan anaknya berjenis kelamin laki-laki sementara anaknya yang dilahirkan istrinya berjenis kelamin perempuan maka bisanya ia mendidik anaknya ala mendidik anak laki-laki sehingga anaknya menjadi tomboy. Dengan demikian dapat kita pahami bahwa terjadinya kelainan ini adalah bukan terjadi secara alami, akan tetapi akibat dari pengaruh lingkungan dan pendidikan. Peran media pun sangat berperan besar dalam melestarikan fakta ini seperti tayangan-tayangan yang menampilkan (baca : membela) eksistensi komunitas yang melakukan penyimpangan ini. Mulai dari bumbu-bumbu lawakan sampai penayangan kontes Miss Waria misalnya, ini memberi pengaruh terhadap masyarakat seakaan-akan mereka harus menerima fakta ini sebagai suatu yang lumrah dan harus dijaga. Bahkan masih ada dalam ingatan kita bagaimana pada saat kita melakukan ibadah sunnah Sahur (pada bulan Ramadhan kemarin), kita disajikan oleh beberapa media elektronik menu lawakan yang menampilkan komunitas ini atau yang menyerupai. Padahal aktivitas menyerupai ini perbuatan yang dilaknat oleh Allah SWT.


Mengutip kata orang bijak 'ala bisa karena bisa', maka bisa jadi masyarakat yang tadinya menolak eksistensi komunitas ini akhirnya menerima, sebagaimana dahulu yang namanya pacaran dan gaul bebas adalah hal yang tabu di masyarakat tapi karena masyarakat terus menerus 'digempur' oleh tayangan-tayangan media yang menampilkan sosok-sosok yang dianggap manusia modern adalah mereka yang melakukan pacaran dan gaul bebas, akhirnya mereka terbiasa oleh hal ini bahkan mendorong anaknya untuk pacaran dan bergaul bebas supaya menjadi 'manusia modern' atau karena kekhawatiran anaknya tidak dapat jodoh kalau anaknya tidak melakukan hal ini (yang sebenarnya ini tanggung jawab mereka). Demikian juga bila masyarakat terus digempur oleh tayangan-tayangan tentang komunitas yang melakukan homoseksual atau lesbianisme maka akhirnya masyarakat pun akan terbiasa akan hal ini yang pada akhirnya mereka menerima (dipaksa menerima). Demikian juga peran Negara dalam hal ini sangat penting. Sebut saja misalnya bulan-bulan kemarin kemarin kita mendengar bahwa ada cara kontes miss Waria di jantung ibukota Jakarta, tanpa izin dari pemerintah tentu hal ini tidak akan dilaksanakan, bukan hal yang mustahil kalau kemudian pemerintah pun melegalkan perkawinana sesama jenis seperti halnya yang terjadi di Afrika Selatan (naudzubillahi mindzalik).

Kalau ini masalahnya, maka yang harus dilakukan adalah mewujudkan lingkungan pergaulan yang sehat baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat secara umum serta peran negara yang optimal dan tegas dalam menyehatkan lingkungan masyarakat. Untuk mewujudkan lingkungan yang sehat ini dalam pendidikan Islam misalnya, tempat tidur anak laki-laki dan anak perempuan harus dipisah sejak usia 7 tahun, demikian juga terpisahnya jama'ah laki-laki dan perempuan dalam kehidupan umum (infishol) kecuali ada keperluan yang dibolehkan oleh syari'at mereka boleh berinteraksi. Selain itu Islam sangat tegas terhadap kelainan seksual ini, misalnya memberi hukuman mati atas pelakunya dan ini tentunya dilakukan oleh Negara (al-maliki, 2002 : 54). Dengan demikian dalam lingkungan yang Islami fakta homoseksual dan sejenisnya ini tidak akan ditolelir apalagi dilindungi. Adapun tentang istilah 'khunsa' yang terdapat dalam sebuah riwayat bahwa Ali r.a pernah ditanya tentang hal ini. Apakah diperlakukan sebagai laki-laki atau perempuan, Ali r.a. menjawab : "lihat saja tempat keluar air kencingnya". Hal ini tidak identik dengan istilah banci atau waria (sebagaimana yang dikenal saat ini). Istilah 'khunsa' ini menunjukkan seseorang yang mempunyai dua alat kelamin secara fisik.

Dengan demikian fakta kelainan ini ini bisa dirubah masalahnya adalah apakah masyarakat mau atau tidak, disamping sistem kehidupan yang diberlakukan di tengah-tengah mereka mendukung atau tidak atas eksistensinya atau justru malah melestarikan (masya Allah).


Lagi lagi Hak Asasi Manusia (HAM)

Alasan lain supaya kita menerima (dipaksa menerima) fakta ini adalah karena ini bagian dari Hak Asasi Manusia yang harus dilindungi. Pertanyaannya adalah betulkah melindungi komunitas homoseksual (gay) atau lesbianisme (lesbian) adalah bagian dari melindungi HAM?

Kalau HAM diartikan sebagai pemenuhan hak-hak dasar manusia untuk memenuhi kebutuhannya sebagaimana yang sering dikemukakan oleh pembela HAM, maka bukankah manusia mempunyai hak dasar untuk melanjutkan keturunan sebagai manipestasi dari nalurinya (gharizatul nau')? kalau kemudian homoseksual dan lesbianisme ini dibiarkan justru bukankah ini merupakan bencana kemanusiaan yang menyebabkan terputusnya keturunan? karena mana ada dari pergaulan homoseksual atau lesbianisme ini yang menghasilkan keturunan. Jauh panggang daripada api begitu kata orang bijak.

Sungguh ide HAM adalah ide rusak yang berasal dari asas yang sesat dan menyesatkan yakni sekularisme yang juga merupakan landasan dari ideologi kapitalisme. Menurut kapitalisme pada dasarnya tabiat manusia adalah baik, tidak jahat. Kejahatan muncul ketika manusia dikekang kehendaknya. Wajar kemudia kaum kapitalis menyerukan upaya pembebasan kehendak manusia agar ia mampu menunjukkan tabiat baiknya yang asli, dari sini kemudian muncul ide kebebebasan termasuk salah satunya kebebasan prilaku individu (Zallum, 2001 : 26). Demikian juga kapitalisme memandang bahwa hubungan antara individu dan masyarakat adalah hubungan kontradiktif sehingga harus ada perlindungan individu dari dominasi masyarakat sebagaimana harus ada jaminan dan pemeliharaan terhadap sejumlah kebebasan individual. Dengan demikian ketika ada kepentingan individu seperti munculnya komunitas gay dan lesbian ini harus dilindugi dari dominasi dan opini umum masyarakat yang memarginalisasikan individu-individu yang ada didalamnya. Begitu pula peran negara adalah menjaga kebebasan komunitas ini. Ini didasarkan pula kepada pandangan bahwa masyarakat adalah kumpulan dari individu-indivu dimana ketika kebutuhan individu-individu tersebut secara otomatis kebutuhan masyarakat terpenuhi.

Pandangan-pandangan tentang HAM diatas merupakan setumpuk pandangan yang salah dan tidak ada faktanya. Sebab tabiat manusia bukanlah baik seperti yang dikatakan orang kapitalis dan bukan pula jahat sebagaimana pandangan gereja yang berasal dari filsafat-filsafat kuno yang didasarkan kepada warisan dosa Adam. Pandangan yang benar adalah bahwa tabiat manusia pada dasarnya mempunyai potensi untuk menerima kebaikan dan kejahatan sekaligus. Dalam diri manusia terdapat potensi seperti naluri-naluri dan kebutuhan jasmani yang menuntut pemenuhan. Demikian juga manusia dianugerahi akal oleh sang Maha Pencipta dimana dengannya manusia dapat memilih langkah dengan cara apa ia memenuhi tuntutan naluri dan kebutuhan jasmaninya. Bila ia memenuhinya dengan cara yang benar maka ia telah melakukan kebaikan sebaliknya bila ia memenuhinya dengan cara yang salah maka ia telah melakukan keburukan. Pandangan ini sudah dijelaskan oleh Islam, dalam surat al-Balad ayat 10 Allah berfirman, yang artinya :
"Kami telah menunjukkan kepadanya (manusia) dua jalan (baik dan buruk).
Demikian juga hubungan dalam masyarakat pada dasarnya hubungan saling terkait bukan kontradiktif sebagaimana yang dikatakan kapitalis kapitalis. Hubungan terkait tersebut ibarat tangan dengan badan. Tangan tidak bermanfaat tanpa tubuh, demikian juga tubuh kurang sempurna tanpa tangan. Masyarakat sendiri adalah kumpulan individu-individu yang melakukan interaksi secara terus menerus, dimana interaksi ini terjadi ketika ada kesatuan pemikiran, perasaan, dan aturan. Peran nagara disini adalah bagaimana menjaga hak-hak individu dan juga hak-hak masyarakat dengan perturan yang ia tetapkan sehingga terjadi keharmonisan ditengah masyarakat. Kasus di Afrika Selatan misalnya, bisa jadi kepentingan kaum gay atau lesbian terpenuhi, tapi bagaimana dengan kepentingan masyarakat luas yang menginginkan supaya komunitas ini justru tidak ada, karena secara manusiawi hal ini tidak dapat diterima. Inilah kontradiktifnya pemikiran kapitalis yang melahirkan ide HAM.


Meluruskan makna konservatif

Demikian juga tuduhan terhadap kalangan yang menolak penyimpangan ini dengan sebutan konservatif, sesungguhnya merupakan tuduhan yang tendensius. Kalau kita kaji lebih mendalam makna konservatif adalah menjalani hidup sesuai dengan reaksi naluri serta membuat aturan-aturan dan pemecahan atas dasar panggilan naluri. Orang-orang yang memberikan kebebasan pada nalurinya atau menjadikan kebebasan sebagai undang-undang dasar yang menjadi sumber penggalian seluruh undang-undang yang mengatur kehidupan pada dasarnya adalah orang orang konservatif, sebab mereka telah mengatur hidup mereka hanya berdasarkan panggilan naluri semata, dan memberikan kedaulatan sepenuhnya pada naluri sebagai pengatur dalam kehidupan mereka. Kebahagiaan mereka juga diukur dengan sejauh mana mereka bisa menikmati kenikmatan-kenikmatan jasadian mereka atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan naluriah mereka. Inilah makna sebenarnya dari kata konservatif. (Hawari, 2003 : 87-88). Sementara itu istilah konservatif yang mereka beri makna kembali pada aturan-aturan lama untuk kehidupan mendatang sebenarnya mereka gunakan untuk menikam Islam dan kaum muslimin serta siapa saja yang menolak peradaban Barat agar mereka menengok kembali ke masa primitive yakni masa sebelum Islam, sekaligus menyaksikan kehidupan manusia pada saat itu, bagaimana mereka mengatur kehidupannya? Sesungguhnya seseorang yang hidup pada masa sebelum Islam berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan naluriahnya sebanyak mungkin, tanpa ada batasan ataupun penghormatan pada aturan. Dengan kata lain, mereka mengumbar kebebasan mutlak sebagaimana yang diserukan oleh 'manusia-manusia modern'. Dengan demikian, manusia modern saat ini yang menyerukan kebebasan untuk berekspresi dan berprilaku, kebebasan untuk memiliki segala sesuatu, kebebasan untuk berpendapat, dan kebebasan untiuk beraqidah justru pada dasarnya telah kembali ke masa primitive; masa ketika manusia mempertahankan naluri-nalurinya sendiri.
Selanjutnya Islam datang mengatur manusia dan memerintahkannya untuk beribadah kepada Allah SWT. Islam telah menjadikan seluruh perbuatan manusia terikat dengan perintah dan larangan-Nya. Islam telah mengatur kehidupan mereka dengan aturan-aturan, hukum-hukum, dan undang-undang yang telah disyari'atkan kepada mereka. Islam telah menggariskan sejumlah langkah ke depan, sekaligus menyelamatkan manusia dari penyembahan dan ketertundukkan mereka pada naluri-naluri mereka sendiri. Demikianlah makna sesungguhnya dari istilah konservatif.

Khatimah

Mari kita renungkan firman Allah SWT

Artinya : "Kami telah menjadikan untuk isi neraka Jahanam, kebanyakan dari golongan jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, namun tidak digunakan untuk berpikir. Mereka mempunyai mata, namn tidak digunakan untuk meliohat. Merksa mempunyai telinga, namun tidak digunakan untuk mendengar. Mereka itu seperti hewan bahkan lebih sesat lagi." (TQS. Al-A'raf:179)

Di dunia hewan saja kita tidak pernah mengenal pejantan menyukai pejantan lagi atau betina ke betina lagi. Tapi memang, lain manusia lain hewan, bahkan manusia lebih rusak lagi. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Wallahu a'lam bish shawab.

Daftar Rujukan

Al-Qur'an Al-Kariim

Abdurrahman, Hafidz.1998. Islam: Politik dan Spiritual. Singapore : Penerbit Lisan Ul-Haq

Al-Maliki, Abdurrahman. 2002. Sistem Sanksi Dalam Islam (terj). Bogor : Pustaka Thariqul 'Izzah.

Hawari, Muhammad.2003. Politik Partai ; Meretas Jalan Baru Perjuangan Partai Politik Islam (terj). Bogor : Idea Pustaka.

Zallum, Abdul Qadim. 2001. Serangan Amerika untuk Menghancurkan Islam (terj). Bogor : Pustaka Thariqul 'Izzah.

www.bbcindonesia.com
posted by Asep @ 1:01 PM   0 comments
Thursday, December 01, 2005
Outline Materi : DEBAT CARA NABI SAW

Pengertian

Debat menurut al-Qur'an
Debat suatu realitas
Jenis-jenis debat
Debat, salah satu cara dakwah
Tujuan debat
Bersikap proporsional dalam berdebat

Beberapa pelajaran dari debat para nabi
Beberapa debat Nabi sebelum Muhammad saw
Debat nabi Muhammad saw

Metode debat nabi saw
Selalu menyebut pemikiran batil yang dibantah apa adanya
Membantah argumen
Memaparkan pandangan Islam
Harus selalu melihat mana yang tepat realitasnya
Ketika berdiskusi tentang syari'at harus dibedakan caranya (antara dengan muslim dan non muslim)
Ketika berdiskusi tantnag syari'at harus selalu berpegang kepada metode ijtihad
Ketika berdiskusi tentang syari'at harus selalu dihubungkan dengan keimanan
Ketika berdiskusi harus ada pengakuan sebagai hamba Allah


Debat memerlukan kedewasaan jiwa, cara yaitu:
Niat ikhlas untuk Allah swt, bukan untuk popularitas
Sabar : karena harus merobohkan pemikiran/keyakinan dan memmbangun pemikiran/keyakinan baru
Tidak emosional
Jangan menjelekkan orang, tetapi rontokkan idenya
Sepanjang berdebat memohon kekuatan dari Allah SWT
Berbicara dari lubuk hati, bukan dari mulut
Dengarkan argumen orang lain, jadilah pendengar yang baik
Gunakan sentuhan fikriyah dan fithriyah
Berdebat dengan orang jahil, ucapkan keselamatan.
Menggunakan kata-kata secara tepat dan cermat yang dapat mewakili apa yang dimaksud
Kembalikan kepada Allah swt


Hal yang mendasar dalam berdebat ;
Memahami metode berpikir
Tetapkan tolak ukur kebenaran
Fokus bukan mental perang
Balikkan logika
Cari akar permasalahan ; mafahim, maqayis, dan qona'at


Empat hal yang menentukan
Tentang pendapat/hukum yang ia pahami, jika ia tidak menjawab(tidak tahu) gugurlah hujjahnya
Argumen atau dalil yang dijadikan landasan suatu pendapaty atau hukum.
Justifikasi/wajhu istidlal.
Cara memberi bantahan .

4 gejala gugurnya argumen :
Terdapat pertentangan antara satu argumen dengan argumen yang lain
Pernyataan beralih dari argumen ke fitnahan (mihal)
Terjadi pengalihan pokok pembicaraan ke topik yang tidak berhubungan
Ditanya sesuai tapi menjawab persoalan lain yang tidak ditanyakan

TERKAHIR YANG PALING PENTING
EXPERIENCE IS THE BEST TEACHER : Belajarlah dari pengalaman

Wallahu a'lam bish shawab

posted by Asep @ 6:16 AM   1 comments
MENUJU KREATIVITAS INDIVIDU DAN KELOMPOK1


Oleh : Asep Firman Y.2

A. Pengertian

Pengertian kreatif menurut bahasa adalah menciptakan sesuatu yang baru tanpa ada contoh sebelumnya. Karena menghasilkan sesuatu yang bersifat kreatif itu bentuk akhirnya akan mempunyai ciri-ciri kebaruan dan keunikan, meskipun unsur-unsur dasarnya sudah ada sebelumnya.3

Definisi lain adalah proses yang darinya terlahir produk baru yang disenangi masyarakat atau diterima sebagai sesuatu yang bermanfaat.4

Dengan demikian pengertian kreatif adalah kemampuan berpikir untuk mencapai produk yang beragam dan baru yang dapat dilaksanakan, baik dalam bidang keilmuan, seni, sastra maupun lainnya, dari bidang-bidang kehidupan yang banyak.4

B. Metode Nabi SAW dalam meningkatkan daya inovasi dan kreativitas berpikir.

“Potensi yang dimiliki setiap orang laksana pancaran air yang meluap atau aliran sungai yang sangat deras. Hanya pembina yang jeli yang mampu membimbingnya menuju gerbang kesuksesan. Adalah tindakan yang tidak etis, menghalangi dan merintangi potensi tersebut untuk tumbuh dan berkembang.”

Metode pembinaan Rasulullah Saw :

Menghindari kebekuan berpikir, memotivasi keterbukaan nalar, dan mendukung perbedaan pendapat.
Contoh : peristiwa shalat Ashar di Bani Quraizhah

Mengubah pendapat sesuai dengan kondisi yang ada.
Contoh : Kecekatan Rasulullah saw dalam menghadapi kondisi padaa saat menjelang perang Badar

Memecahkan berbagai kesulitan secara kreatif.
Contoh : Pemindahan hajar aswad pada saat banjir

Memberikan motivasi bagi munculnya ide-ide inovatif dan kreatif.
Contoh : peristiwa letak pasukan pada perang badar; Panggilan untuk shalat; Strategi membuat lobang pada saat perang khandak.

Menghimpun orang-orang yang unggul dan berpotensi
Contoh : Peristiwa azan Bilal di Mekkah (Abu mahdzurah)

Memotivasi para sahabat untuk bberijtihad dalam mengeluarkan pendapat, kemudian memberikan pengakuan terhadapnya.
Contoh : peristiwa pengutusan Muadz bin Jabal ke Yaman

Pembinaan kepribadian sebagai modal utama untuk melakukan inovasi dan berkreasi.
Contoh : Umar dan Abu Bakar, Rasulullah hamba yang bersyukur

Memberikan motivasi dan dorongan sebagai faktor dasar untuk menciptakan iklim kreatif.
Contoh : memberikan gelar dan pujian, penyerahan panji ke Ali di khaibar

Melakukan Brainstorming dan memunculkan beragam pertanyaan.

C. Langkah-langkah menuju pribadi dan kelompok yang kreatif

1. kenali hal-hal yang dapat membunuh pemikiran kreatif
(a) kendala pribadi, (b) kendala lingkungan, (c) kendala peraturan
(d) kendala motivasi, (e) Kendala yang bersifat emosional
(f) kendala pendidikan.

2. lakukan langkah-langkah :
(a)dialog dengan orang lain untuk mencari daya kreativitas diri
(b)wujudkan sesuatu yang belum pernah dilakukan orang lain
(c)jangan tinggalkan ide-ide anda yang dianggap “tidak wajar”.manusia tak selamanya benar
(d)mulai hadapi kesulitan yang ada sebelum kesulitan lain yang akan menghadang anda.
(e)kesulitan yang ada tidak bisa diselesaikan denagn satu jawaban, karena bukan soal matematika. Berdiskusilah
(f)keterbukan atas pendapat orang lain
(g)Ingat orang kreatif adalah SDM yang tidak akan habis selama masih hidup
(h)harus ada masyarakat dan lembaga yang mendukung munculnya kreativitas
(i) buanglah kebiasaan lama yang membuat anda terlena, ambil manfaat yang ada dalam potensi diri.
(j) Ingatlah kita adalah manusia. Dalam diri kita terdapat potensi yang dapat mendorong kita ke gerbang kesuksesan.

3. Melakukan Brainstorming; cara tepat untuk meningkatkan daya kreativitas
Prinsip-prinsip
(a)perlunya menghindari kritik dan penilaian, (b) menyambut baik semua ide selama dalam konteks pembahasan (c)kuantitas ide sangat diperlukan sebagai bank ide (d)mengkontruksi dan mengembangkan ide-ide orang lain.

Langkah-langkahnya :

 Klasifikasi permasalahan
Menentukan permaslahan, memperkenalkan dimensi-dimensi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Peserta harus memahami permasalahan

 Klasifikasi akhir terhadap permasalahan
Kristalisasi beberapa solusi, yang memungkinkan menghantarkan kepada solusi yang sesungguhnya.

(1)pencatatan ide-ide yang telah dimunculkan dalam sesi brainstorming.
(2)penentuan ide-ide yang terpilih, sesuai dengan urgensitasnya dalam bentuk tabel (jadwal)
(3)Hasil akhir dari solusi-solusi kreatif
(4)evaluasi

Langkah untuk menilai apakah solusi-solusi tadi layak dijadikan solusi atas permasalahan dengan melihat:
biaya yang dibutuhkan
pengaruh terhadap hubungan dengan pihak-pihak lain
jangka waktu yang dibutuhkan
manfaat yang diperoleh
otentisitas ide
keuntungan materi
pelaksanaan
tingkat resiko
pengalaman para pelaksana
kejelasan hasil
tingkat kemampuan
timbal-balik dari solusi tersebut
kelayakan solusi bagi institusi

Sejenak kita tinggalkan realitas kehidupan, Nikmati Dongeng ini!!!
Konon, ada seorang laki-laki berbadan besar dan berotot keras dihadang seekor ular berkepala dua yang apnjangnya 60 kaki. Ketika laki-laki tersbut mencoba melarikan diri, ular tersebut melilitnya dan kemudian membunuhnya.
Beberapa hari kemudian, ular tersebut menghadang seorang anak kecil yang bermata besar. Ketika ular tersebut mendekat untuk membunuhnya, si anak kecil pun terkejut dan membelalakan matanya tepat dihadapan kepala ular tersebut karena terkejut melihat makhluk aneh yang ada dihadapannya. Ketika melihat gambarnya sendiri di dalam kedua mata anak tersebut, ular berkepala dua tersebut ketakutan dan lari terbirit-birit.
Ingatlah selalu bahwa hal-hal yang nyata yang ada hari ini adalah mimpi-mimpi hari kemarin
Catatan kaki
1 Materi Pelatihan Kepanitiaan Dasar (PKD) DKM Universitas Padjadjaran, Selasa 28 Juni 2005
2 Ketua P3SDP DKM Unpad periode 2003-2004
3 Al-Ibda’, Dr. Abdul Halim Mahmud as-Sayyid, seri kitabuka, no. 154, Daarul Ma’arif
4 Psikologi Inovasi, Dr. Helmi al-Muligi, cet.4,1985, hlm.124-125
5 Pengembangan kreativitas Anak, Dr. Muhammad Sayyid Abdurrazzaq, seri safir-Tarbawiyah, no.16,hlm.5
Buku-buku lain yang dianjurkan untuk dibaca lebih lanjut :
Abdul Jawwad, Muhammad. 2004. Menjadi Manajer Sukses (terj.) Jakarta : Gema Insani
Kao, John J. tt. Managing Creativity.USA : Harvard University Press
posted by Asep @ 6:04 AM   1 comments
TERORISME DAN PESANTREN, BETULKAH BERKAITAN?


Oleh : Asep Firman Y.


PENDAHULUAN
Kata terror---isme dan pesantren, akhir-akhir ini telah sangat menyita pikiran dan perhatian kita. Lebih-lebih selepas terbunuhnya Azahari yang selama ini diburu oleh pihak kepolisian RI yang diduga kuat sebagai gembong terorisme. Seakan tanpa akhir, bahkan kematiannya pun ternyata telah menimbulkan sensasi baru, yaitu adanya pandangan yang skeptis terhadap bagaimana sesungguhnya kematian Azahari terjadi, ada misteri di balik kematian Azahari. Sebut saja misalnya majalah Intelejen (?) memberikan beberapa analisa, salah satunya bahwa Azahari hanyalah pelaksana lapangan dalam membuat kekacauan (teror) yang dimanfaatkan oleh user, dimana penangkapan dengan cara dibunuh di tempat adalah suatu yang diinginkan oleh user tersebut. Alasannya ada dua kemungkinan, pertama Azahari sudah tidak dibutuhkan lagi oleh user karena agen pengganti yang lebih baik sudah ada, ini dikaitkan dengan lepasnya Umar al-Farouk dari penjara Baghram Afganistan, kedua Azahari mulai sulit dikendalikan sehingga berbahaya bagi user kalau ia dibiarkan hidup. Ini dikaitkan dengan informasi bahwa Azahari berencana akan bernegosiasi dengan Presiden Susilo Bambang Yudoyono untuk menyerah dan bersedia untuk menjelaskan semua hal berkaitan dengan tuduhan peledakan bom yang ditujukan kepadanya.
Sementara itu, kata pesantren yang dikaitkan dengan istilah terorisme mulai terangkat setelah terbukti bahwa diantara pelaku terorisme adalah alumni pesantren. Misalnya dengan ditangkapnya Amrozi, seorang "santri" laki-laki yang lugu dari desa Tenggulun Kecamatan Solokuro Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, sebagai orang yang diduga menjadi pelaku Bom Bali I yang menjadi terpidana mati. Apalagi pimpinan pondok pesantren Al-Islam Solokuro Lamongan Jawa Timur (Ust Zakaria) menyatakan dengan yakin bahwa Amrozi sebagai salah satu pelaku peledakan bom Bali I (Media Indonesia, 13/11/2002). Bahkan selanjutnya, Ja'far Shidiq dan Ali Imron 2 saudara Amrozi pun ditangkap berikutnya Imam Samudera yang menjadi terpidana mati, semuanya berlatar alumni pesantren. Demikian juga pelaku Bom Bali II misalnya Aip Hidayat (Yanto) dia adalah alumni salah satu pesantren di Majalengka. Sebelumnya sudah muncul ke permukaan bahwa ust. Abu Bakar Ba'asyir, pimpinan pondok pesantren Al-Mukmin Ngruki Solo adalah seorang kyai yang diduga terlibat dalam pengeboman tersebut. Bahkan diduga sebagai pembawa jaringan Jamaah Islamiyah (JI) yang selama ini dituding Amerika Serikat sebagai biang terorisme.
Dengan adanya fenomena "obok-obok" pondok pesantren dengan tuduhan adanya pelaku pengeboman di Bali I, II dan pemboman di tempat lainnya, maka terkesan pondok pesantren sebagai sarang terorisme. Benarkah demikian? Ataukah hanya kambing hitam pihak tertentu untuk kepentingan mereka dalam mencapai tujuan dan agendanya? Bagai mana sikap seharusnya yang kita lakukan sebagai seorang muslim atas kasus ini? Mudah-mudahan tulisan singkat ini bisa menjawab semua itu.

PESANTREN DALAM LINTASAN SEJARAH
Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua dan khas Indonesia. Menurut sejarahnya, pesantren mempunyai peranan kunci dalam penyebaran Islam dan dalam pemantapan ketaatan masyarakat kepada Islam. Sebagai sebuah gambaran tentang kondisi awal keberadaan pesantren kita dapat menyimak pernyatan Dr. Soebardi dan Profesor Johns :
Lembaga-lembaga pesantren itulah yang menentukan watak ke-Islaman dari kerajaan-kerajaan Islam, dan yang memegang peranan paling penting bagi penyebaran Islam sampai ke pelosok-pelosok. Dari lembaga-lembaga pesantren itulah asal-usul sejumlah manuskrip tentang pengajaran Islam di Asia Tenggara, yang tersedia secara terbatas, yang dikumpulkan oleh pengembara-pengembara pertama dari perusahaan-perusahaan dagang Belanda dan Inggris sejak akhir abad ke-16. untuk dapat betul-betul memahami sejarah Islamisasi di wilayah ini, kita harus mulai mempelajari lembaga-lembaga pesantren tersebut, karena lembaga-lembaga inilah yang menjadi anak panah penyebaran Islam di wilayah ini.(Dhofier, 1983 : 17-18)
Selain itu pesantren juga didirikan sebagai bentuk perlawanan terhadap penetrasi agama dan budaya kaum kolonialis imperialis abad 16-17. Peran dan fungsi pesantren semakin nyata, setelah kolonialis imperialis Belanda benar-benar menguras harta kekayaan material dan spiritual bangsa Indonesia. Melalui tanam paksa (cultuurstelsel), yang menyengsarakan mayoritas petani di Pulau Jawa, hasil bumi Indonesia seperti kopi, teh, cokelat, tebu, diangkut ke negerinya sendiri, untuk membangun kota-kota, dam (bendungan), dan sekolah-sekolah. Sementara anak dan tanah jajahan dibiarkan telantar. Melalui penelitian-penelitian yang melibatkan para ahli di berbagai bidang ilmu pengetahuan, semua aspek budaya, adat istiadat, dan arsip-arsip kuno, dibawa ke museum-museum yang mereka bangun di negeri mereka dengan bermodalkan dana hasil perasan keringat, darah, dan airmata anak bangsa terjajah.
Perlawanan terhadap kolonialis-imperialis Belanda (juga Jepang), sebagian besar dipelopori kalangan pesantren. Santri dan kiai mengganti kitab dengan senjata. Mereka menggemakan jihad fi sabilillah dalam artian melawan kezaliman dan kejahatan serta mengusir penjajah dari negeri mereka. Nama-nama Pangeran Diponegoro bersama Kiai Maja dan Sentot Alibasyah, adalah perpaduan trio figur penguasa, ulama, dan panglima perang, yang mengobarkan Perang Diponegoro (1825-1830). Perang terbesar dan terberat bagi Belanda di pulau Jawa. Begitu pula, Imam Bonjol pada Perang Padri di Sumatra Barat, Teuku Umar pada Perang Aceh, Kyai Wasid dalam peristiwa geger Cilegon, Banten, Kiai Hasan pada peristiwa Cimareme, Garut, Kiai Haji Zaenal Mustopa pada peristiwa melawan Jepang di Singaparna, Tasikmalaya dan lain-lainnya.
Salah satu tujuan tersembunyi dari politik etis (etiche politiek) yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda abad 19, adalah untuk mengalihkan minat menuntut ilmu di kalangan masyarakat jajahan, dari pesantren ke sekolah. Maka dibukalah sekolah-sekolah desa kelas dua dan sekolah rakyat, yang murah dan bergengsi. Lulusan dari sekolah-sekolah tersebut, yang sudah bisa baca tulis huruf Latin, dicadangkan sebagai pegawai rendahan pada birokrasi kolonial. Semacam juru tulis atau opas.
Jauh berbeda dengan pesantren yang sama sekali tak berguna (karena dianggap tak mampu) untuk kerja birokrasi. Bahkan banyak jebolan pesantren yang mengharamkan pekerjaan pegawai negeri. Sebuah 'aforisma' pangrugi-rugina lamun santri jadi lebe, ajengan jadi naib (sangat merugi sekali, jika santri menjadi lebai, kiai menjadi penghulu) menunjukkan antipati pihak pesantren kepada institusi kolonialis imperialis.
Pada akhirnya, memang pemerintah kolonial berhasil merangkul kalangan santri dan ulama, untuk duduk di pemerintahan. Terutama setelah Snouck Hugronje, seorang orientalis menjabat sebagai penasihat pemerintah Hindia Belanda urusan keagamaan. Nama-nama ulama terkenal (sekaligus pujangga andal), seperti K.H. Hasan Mustapa dan K.H. Mohammad Musa, diangkat menjadi penghulu besar (setingkat kepala kantor Departemen Agama kota/kabupaten).
Tindakan lain, pemerintah kolonial menyensor buku-buku atau kitab-kitab agama Islam bercorak keras, agar tidak masuk ke wilayah Hindia Belanda. Kitab-kitab seperti tafsir Quran "Al Manar" karya Mohammad Abduh, susunan Rasyid Ridha, majalah "Urwatul Wutsqa" yang diterbitkan Jamaluddin al Afghani bersama Abduh di Paris, dilarang masuk. Kitab-kitab tersebut dianggap membawa suara Pan Islamisme, sebuah gerakan persatuan umat Islam dalam menentang kolonialisme imperialisme Barat di negeri-negeri Islam. Mereka juga membatasi ruang gerak para utusan Khalifah Turki Utsmani di wilayah Nusantara misalnya Khalifah di Istambul pernah mengirimkan utusan ke Indonesia yang bernama Ahmed Amin Bey atas permintaan dari salah satu perkumpulan Islam di Nusantara untuk menyelidiki keadaan kaum muslmin di Indonesia. Pemerintah kolonial Hindia Belanda mengadakan tindakan pelarangan kepada mereka di beberapa daerah tertentu yang tidak boleh didatangi karena khawatir kepentingan kolonialisme mereka terganggu. (Atjeh, 1970 : 103-104, Somad, 2002). Yang boleh masuk, hanyalah kitab-kitab fikih (ilmu hukum Islam) yang sebagian isinya tidak dapat dipraktikkan dalam sistem hukum yang berlaku.
Akibatnya, sebagian besar pesantren sangat berorientasi fikih (fikih oriented). Hanya mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan hukum Islam di bidang ritual (bersuci, salat, zakat, saum, haji), dan sedikit di bidang sosial ekonomi. Bahkan beberapa bagian dari fikih yang menyangkut pelaksanaan hukum seperti rajam (untuk pezina), ta'jir, dan pukulan (untuk orang yang meninggalkan salat dan mabuk minuman keras), potong tangan (untuk pencuri), salib (untuk perampok), tinggal berupa pengetahuan saja. Tidak dapat diterapkan sama sekali, mengingat jenis-jenis hukum dan hukuman tersebut tidak terakomodasi dalam sistem hukum positif (terutama hukum pidana) yang menyerap hukum kolonial. Dapatlah dikatakan, kondisi pewarisan ilmu (fikih) di pesantren-pesantren sekarang, sudah teramputasi. Hanya aspek-aspek ritual yang masih berlaku. Aspek-aspek sosial, ekonomi, dan pidana sama sekali berupa pengetahuan para santri dan kiai saja.
Tetapi, beban pelajaran para santri di pesantren masih cukup berat. Selain harus menguasai ilmu fikih (yang hanya sebagian saja dapat diamalkan), para santri juga harus menguasai ilmu bahasa (lughawi) lengkap dengan pernik-perniknya, mulai dari tata bahasa (Syaraf-Nahwu) hingga keindahan bahasa/sastra (Balaghah), yang juga memiliki pernik-pernik lainnya (bayan, badi', mani, arudl, qawafi) yang tak kalah sulit daripada sharaf-nahwu. Juga ilmu-ilmu tafsir Quran, dan hadis (musthalah dan dirayah). Semua jenis ilmu yang berkategori "fardlu ain" tersebut (menurut Jalaluddin Suyuthi dalam kitab "Itmamud Dirayah") wajib dikuasai para santri yang ingin mendapat predikat "tafaqquh fid dien".
Walhasil, mengaitkan teror atau terorisme sebagai produk pendidikan pesantren sekarang ini, sangat jauh panggang daripada api. Pesantren memang memiliki sejarah kuat dan panjang dalam angkat senjata melawan kaum penjajah sejak awal abad 16 hingga penghujung abad 19. Setelah pesantren mengalami degradasi akibat permainan politik penjajah, tak mungkin lagi pesantren menjadi basis perlawanan bersenjata. Tak ada kitab-kitab cara merakit bom, cara menggalang pasukan, cara melatih diri (i'dad) menghadapi jihadul qitaal. Bahkan untuk mempelajari fikih berikut ilmu-ilmu penunjangnya, para santri sering kehabisan waktu dan stamina.
ADA APA DIBALIK SEMUA INI?
Setelah kita melihat secara empiris bahwa sangat sulit untuk mengaitkan antara pesantren dengan aksi terorisme yang terjadi selama ini, maka bagi orang yang sadar/berakal tentu akan memperlebar analisanya kepada kemungkinan-kemungkinan adanya permainan (baca : konspirasi) dari pihak-pihak tertentu untuk kepentingan mereka dalam mencapai tujuan dan agendanya (agenda setting) dengan mengkambinghitamkan pondok pesantren (baca : Islam). Ada beberapa pihak yang diuntungkan dengan berbagai kasus tuduhan adanya keterkaitan pesantren dengan terorisme yang terjadi selama ini. Paling tidak diantaranya :
1. Negara Asing (Amerika Serikat dan sekutunya)
Jauh sebelumnya, AS memandang bahwa pesantren merupakan lembaga pembinaan. Disinilah dipelajari Islam disertai penempaan keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT. Karenanya, saat berkunjung ke Denpasar Bali untuk mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh agama Indonesia, Rabu (23/10/2003), Presiden AS George Walker Bush mengungkapkan rencana pemerintah AS untuk memberikan bantuan pendidikan sebesar US$157 kepada Indonesia. Bantuan tersebut rencananya akan dikucurkan dalam kurun waktu enam tahun. Dalam pemberian bantuan tersebut, Bush mengatakan pihak AS tidak akan memasuki wacana agama dalam kaitan kurikulum pendidikan. Meski demikian, perbaikan pendidikan Indonesia juga diharapkan dapat meredam radikalisme. Jelaslah, sekalipun tanpa mengatakan 'rubah kurikulum pesantren!' tapi dari keinginan 'meredam radikalisme' terbaca bahwa: (1) pesantren dipandang sebagai bibit radikalisme, (2) perlu sistem pendidikan pesantren sehingga tidak melahirkan radikalisme.
Keyakinan ini dipertegas dengan adanya rekomendasi dari The National Comission on United States-Indonesia Relations agar Amerika Serikat (AS) mengeluarkan bantuan dana senilai US$200 juta per tahun untuk pembangunan sumberdaya manusia melalui penguatan sistem pendidikan Indonesia dan membangun kembali hubungan dengan institusi pendidikan AS (Media Indonesia, 19/01/2004). Rekomendasi ini menjelaskan dua hal, (1) AS perlu membantu pendidikan Indonesia, dan (2) membangun hubungan dengan institusi pendidikan AS. Artinya, ketika 'radikalisme' diredam maka yang harus dimunculkan adalah nilai-nilai yang dikembangkan di institusi pendidikan AS.
Berbeda dengan Bush yang malu-malu menghendaki perubahan kurikulum agama, Menlu AS Colin Powell (22/01/2004) mengatakan sekolah agama Islam, atau madrasah, harus memperluas kurikulum jika mereka mau menghasilkan murid-murid yang mampu memenuhi tuntutan abad ke-21. Powell mengatakan AS akan bekerja melalui sejumlah program, seperti yang disampaikan Presiden George Bush dalam pidato kenegaraan, Selasa (20/01/2004), untuk meyakinkan para pemimpin dunia Islam bahwa pendidikan yang dihasilkan madrasah di dunia Islam sekarang tidak lengkap dan merusak keamanan. "Jika mereka hanya mengirim generasi muda ke madrasah, sekolah itu tidak melakukan apa-apa tetapi mengindoktrinasi mereka dalam aspek-aspek buruk. Mengajarkan kebencian tidak akan membawa perdamaian bagi kita semua di kawasan ini," katanya.
Sebenarnya, wacana tentang evaluasi kurikulum di berbagai pendidikan Islam telah lama didengungkan oleh Amerika Serikat (AS). AS akan menangani pesantren-pesantren di Indonesia dengan anggaran US$250 juta, Ausralia sumbang US$12 juta (The Weekend Australian 4-5 Oktober 2003, www. The australian.com.au). Dengan demikian, merubah kurikulum pesantren merupakan bidikan AS.
Selain itu, Amerika berkepentingan dalam memberantas Islam ideologi karena dianggap lawan seimbang yang dapat menghancurkan ideologi yang mereka emban selama ini (kapitalisme). Mereka sadar, bahwa dengan kembali kepada Islam ideologi, berarti hegemoni sistem kapitalisme yang mencengkeram dunia saat ini akan terancam. Hal itu tercermin dalam pidato Bush (6/10/2005) di depan undangan National Endowment of Democracy dan di hadapan The Ronald Reagan Presidential Library (Al-Islam, edisi 279). Salah satu langkah yang mereka lakukan adalah isolasi gerakan Islam yang menyerukan penerapan Islam ideologi. Isolasi ini dilakukan dengan mencegah terjadinya interaksi para pengemban Islam ideologis tersebut menjadi gerakan bawah tanah (underground movemens) atau agar mereka dijauhi masyarakat sehingga konsep-konsep Islam ideologis tidak berkembang dalam masyarakat. Dalam kasus ini dapat kita lihat misalnya pemberitaan media (khususnya media Barat atau media lokal yang berafiliasi Barat) sering mengkaitkan antara pelaku teror bom dengan buku-buku yang mereka bawa yang menyeru penegakan syari'ah dan khilafah/daulah islamiyah (Negara Islam). Demikian juga di berbagai media yang dicurigai teroris pastilah Ahmad bukan George, yang berjenggot, yang celananya diatas mata kaki (isbal), yang memiliki tanda dahi hitam, membawa al Qur'an dan buku-buku Islam. Tak jarang di media menampilkan kehidupan sosok pelaku aksi terorisme dengan dengan penggambaran yang bias. Misalnya mereka adalah sosok yang baik, sopan-santun, suka mengisi pengajian, dan dikenal anti Amerika dan sekutunya. Yang akibatnya menimbulkan Islamophobia. Masyarakat takut untuk ikut pengajian, mereka takut memasukan anak-anaknya ke pesantren atau lembaga pendidikan Islam lainnya, curiga kepada orang yang berdakwah dalam rangka melanjutkan kembali kehidupan Islam. Ini membuat terisolasinya Islam dan para penyerunya dari masyarakat dan inilah yang AS inginkan.
2. Kepentingan sesaat pemerintah
Pasca peledakan BOM di Bali pada 1 Oktober 2005, Wakil Presiden Jusuf Kalla langsung menegaskan akan mengawasi sebagian pesantren. Bahkan, khatib. Kalau perlu seperti cara Orde Baru. Padahal, cara-cara yang ditempuh jaman Orde Baru berprinsip pada 'Islam dan aktivisnya sebagai tertuduh'. Betapa banyak ulama dibungkam, partai Islam dikebiri. Pernyataan pemerintah, khususnya Wakil Presiden Jusuf Kalla, bahwa jika perlu pemberantasan terorisme dilakukan dengan meniru cara-cara Orde Baru, yakni mengawasi pesantren dan isi ceramah agama, direaksi keras para pemimpin Islam. Ketua Umum PB NU Hasyim Muzadi, misalnya, mengemukakan bahwa pernyataan pemerintah tersebut mengisyaratkan masih saratnya stigma dan label-label agama dalam melihat aksi-aksi terorisme. Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dalam rilis yang diterima JPNN mengungkapkan, pemerintah tidak pernah mau belajar dari pengalaman dan tidak mau memperbaiki diri. Yakni, tuding sana tuding sini, lalu mengaitkan teror dengan agama tertentu.
Nampaknya, kembali kepada cara-cara Orde Baru ini diamini oleh Mantan Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) Abdullah Makhmud Hendropriyono. Dalam wawancaranya dengan LKBN ANTARA Hendro meminta pemerintah juga menertibkan kurikulum di semua pondok-pesantren. Orang yang oleh seorang pejabat CIA disebut a breath of fresh air (angin segar) ini meminta pemerintah melarang pengajaran tentang teori dan pemikiran Sayyid Qutb. Mantan Pangdam Jaya itu juga meminta pihak pemerinta menghentikan kegiatan organisasi-organisasi Islam yang disebutnya 'radikal'. Menurut Hendro, semua organisasi, yang menurutnya radikal, tak hanya Jamaah Islamiyah (JI) juga perlu dilarang. "Saya minta supaya organisasi-organisasi yang radikal dihentikan, bukan hanya Jamaah Islamiyah (JI) tetapi semuanya. Semua organisasi yang serupa JI itu dan semua orang yang terlibat di JI dan dia masuk keorganisasi lain juga dilarang." Dengan demikian maka atas nama pemberantasan aksi terorisme pemerintah akan bertindak keras untuk memberantas setiap aksi yang menentang kebijakan pemerintah disamping itu juga untuk meng--goal—kan RUU intelejen setelah lama tertunda yang sarat dengan kepentingan asing.Demikian pula, penangkapan Azahari ini telah membuat Pemerintah mendapatkan apresiasi dari pemerintah AS dengan dicabutnya embargo persenjataan dan juga '"hadiah uang tunai" yang diberikan kepada kepolisain yang notabenenya hasil pelatihan CIA (Densus 88). Selain itu disinyalir oleh sebagian orang, bahwa kejadian penagkapan Azhari ini yang diberitakan secara besar-besaran diikuti oleh penagkapan-penagkapan serta razia diberbagai tempat dilakukan dalam rangka mengalihkan perhatian masyarakat dari kebijakan-kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat, seperti kenaikan BBM dan privatisasi sector publik.
Dengan melihat analisa-analisa diatas dan juga siapa yang diuntungkan maka tampak jelas bahwa isu perang melawan terorisme bukan sekedar untuk menghentikan pelaku peledakan semata. Lebih dari itu, sasaran yang dibidiknya adalah Islam itu sendiri dan para pengembannya yang dipandang radikal. Yakni, radikal dalam arti siapapun yang memiliki pemikiran yang bertentangan dengan nilai-nilai Barat penjajah pimpinan AS.
SIKAP YANG HARUS DIAMBIL
Umat Islam adalah umat yang cerdas, sehingga harus cerdas pula dalam menyikapi kasus terorisme ini dengan tidak mudah terpancing untuk bertindak yang kontra produktif bagi dakwah Islam. Misalnya, dengan adanya peristiwa-peristiwa terorisme maka opini mengenai syari'at Islam dihentikan. Kajian-kajian Islam diliburkan karena khawatir dituduh teroris. Jelas ini adalah langkah yang salah. Selama aktivitas dakwah dilakukan secara pemikiran dan sesuai dengan Sunnah Rasul saw. tanpa ada aktivitas fisik, tidka perlu ada perubahan dalam penyampaian opini Islam. Namun tetap waspada. Sikap waspada harus tetap ada untuk mencegah masuknya rekayasa yang dapat menghancurkan dakwah Islam, apalagi sampai terprovokasi untuk menggunakan metode dakwah dengan kekerasan.
Penyikapan terhadap peristiwa terorisme ini akan semakin kuat bila kemudian secara sistematis dan teratur dilakukan upaya kontra opini. Opini bahwa "Islam adalah agama teroris" atau "agama teror adalah Islam" tentu harus diluruskan, bahwa Islam adalah agama rahmatan lil'alamin. Setiap opini yang mengidentikkan kelompok Islam ideologis yang berupaya menegakkan syari'ah dan khalifah dengan kelompok teroris tentu harus diklarifikasi secara jelas.Kontra opini ini penting untuk meluruskan opini-opini keliru yang sengaja dikampanyekan AS dan sekutunya juga para penguasa negeri kaum muslimin yang men jadi antek Barat.
Untuk menghadapi strategi isolasi yang dilakukan oleh AS dan sekutunya lewat isu terorisme maka yang yang dilakukan oleh pengemban dakwah paling tidak dapat melakukan kontra strategi sebagai berikut : (a) Semakin aktif untuk menyebarkan Islam ideologis. Bahaya yang dihadapi para pengemban Islam ideologis dengan pelabelan teroris jauh lebih kecil dibandingkan jika kepentingan-kepentingan dan agenda settingnya tercapai. Yakni kebijakannya menjadi kebijakan publik yang ditegakkan di negeri-negeri kaum muslimin. Misalnya, dalam mengatur urusan-urusan publik, AS menginginkan penerapan sistem ekonomi pasar bebas yang didalamnya mensyaratkan privatisasi sektor publik. Kepentingan AS ini dapat terealisasikan secara permanent hanya jika AS mendapat dukungan dari kaum muslim. (b) Secara argumentatif menjelaskan politik Islam dan bahaya diterapkannya agenda setting AS dan sekutunya. (c) Meninggalkan cara kekerasan untuk mendirikan khilafah. Para pengemban Islam ideologis harus lebih hati-hati terhadap provokasi yang dapat memberikan jalan untuk dilakukannya tindakan represif "legal".
Selain itu ada dua langkah strategis yang harus dilakukan :
Langkah jangka pendek dengan menumbuhkan kesadaran politik (wa'y as-siyasi) Islam ditengah-tengah masyarakat. Kesadaran politik Islam adalah pandangan dunia yang dibangun dengan landasan ideologi Islam (Zallum, 2004 : 88). Dengan tumbuhnya kesadaran ini, masyarakat tidak hanya akan mengetahui konstelasi politik internasional saja tetapi dia juga akan menyadari bahwa AS dan sekutunya merupakan negara imperialis yang dengan berbagai cara akan selalu menciptakan hegemoni atas umat Islam. Kebencian terhadap AS akan muncul seiring semakin telanjangnya kebijakan-kebijakan politik AS yang diskriminatif dijalankan. Demikian pula memahami khiththah siyasiyah dan uslub isti'mar, merupakan bagian penting yang harus dilakukan yang akan menyadarkan umat dari jeratan imperialis. Kerja sama antar gerakan sangat dibutuhkan untuk merealisasikan hal ini. Demikian juga kalangan pesantren dan lembaga Islam harus 'dirangkul' untuk tetap istiqomah menjadi sarana "tafaqquh fiddin" dengan tidak terpengaruh oleh opini di masyarakat yang ditiupkan oleh AS dan sekutunya dengan memperluas peran dan kajian. Peranan harus ditambah bukan hanya sebagai lembaga pengkaderan tapi juga menjadi lembaga penyadaran masyarakat untuk kembali melangsungkan kehidupan Islam kaffah. Demikian juga hendaknya kajian diperluas bukan hanya seputar fiqh ibadah an sich tapi juga kajian lain yang mencakup seluruh syari'at Islam dan penegakkannya.
Langkah jangka panjang dilakukan dengan membangun kekuatan politik Islam seluruh dunia di bawah naungan payung khilafah Islamiyah. Memetik pelajaran yang terjadi beberapa waktu yang lalu dan mencermati bagaimana strategi AS terhadap dunia Islam terhadap Dunia Islam maka menegakkan khilafah merupakan perjuangan yang sangat urgen. Secara ideologis sangat sulit menghentikan dominasi ideologi kapitalisme bila dilakukan secara sporadik atau berkelompok. Kalau ideologi kapitalisme ini disokong oleh sebuah Negara dengan infrastruktur yang super lengkap, maka umat ini memerlukan sebuah Negara adidaya untuk menghentikan hegemoni ideologi kufur tersebut, insya Allah dalam waktu dekat.Wallahu a'lam
"Pertolongan hanya dari Allah, dan kemenangan sudah dekat" (Ash-Shaff : )
Daftar Rujukan
Buku-buku
Dhofier, Zamakhsyari. 1983. Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES.
Kurnia, MR. dkk. 2004. Meretas jalan menjadi politisi Transformatif. Bogor : Al-Azhar Press.
Somad, Abdul. 2002. Pemikiran dan Pergerakan pan-Islamisme di Indonesia pada awal abad ke-20. Jatinangor : Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Unpad.
Zallum, Abdul Qadim. 2004. Pemikiran Politik Islam (terj.). Bangil :Al-Izzah
Majalah, Buletin dan Website
Al-Wa'ie no. 18 tahun II 1-28 Februari 2002
Al-Wa'ie no. 51 tahun V 1-30 November 2004
Buletin Al-Islam 279
Majalah Intelejen edisi ???
Media Indonesia, 13/11/2002
www. hidayatullah.com (Sabtu 26 November 2005)
www.pikiran-rakyat.co.id (Kamis 24 November 2005)
www.news.antara.co.id
www.hizbut-tahrir.or.id
www.waspada.or.id
www.riaupos.com
posted by Asep @ 5:47 AM   4 comments
Profil
Profil Facebook Asep Firman
Buat lencana kamu sendiri
Tentangku
My Photo
Name:
Location: Kelapa Gading, Jakarta, Indonesia

Manusia biasa yang sedang meretas jalan untuk meraih ridho Illahi

Banner 1
Banner 2
Udah Lewat
Arsip Lama
Sekilas Info


.:AGENDA & REGARD:.
Akhir-akhir ini banyak berkutat dengan soal-soal UAS, maklum bentar lagi UAS kan...hehehe..
Afwan, kepada siapa saja kalau akhir-akhir ini saya kurang respon karena kondisi kesehatan agak terganggu nich...mudah-mudahan tidak mengurangi ukhuwwah kita..

Shillah Ukhuwwah
Pengingat Waktu

Anda Pengunjung Yang Ke :

Counter Stats
travel insurance
travel insurance Counter -->

Link Website

Bahan Renungan


.:Wise Words:.
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS. Al Maidah 50)

Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.(Qs. Thahâ [20]: 124).

Dia-lah (Allah) yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkan di atas segala agama-agama walau pun orang-orang musyrik benci. (QS Ash-Shaff [61] : 9)

Apabila kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan akan meneguhkan kedudukan kalian di muka bumi. (TQS Muhammad:7)

Sesungguhnya Allah Swt. berfirman,"Barangsiapa menghinakan wali (kekasih)-Ku, ia telah terang-terangan memusuhi-Ku. Wahai Anak Adam, engkau tidak akan mendapatkan apa saja yang ada pada-Ku kecuali dengan melaksanakan perkara yang telah Aku fardhukan kepadamu. Hamba-Ku yang terus-menerus mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan melaksanakan ibadah sunah, maka pasti Aku akan mencintainya. Maka (jika Aku telah mencintainya) Aku akan menjadi hatinya yang ia berpikir dengannya; dan Aku menjadi lisannya yang ia berbicara dengannya; dan Aku menjadi matanya yang ia melihat dengannya. Jika ia berdo'a kepada-Ku, maka pasti Aku akan memberinya. Jika ia meminta pertolongan kepada-Ku, maka pasti Aku akan menolongnya. ibadah hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah memberikan nasihat(Dikeluarkan oleh ath-Thabrani dalm Kitab al-Kabir)

Backsound


Afiliasi
15n41n1
 Blognya Indonesian Muslim Blogger?E