Thursday, January 19, 2006
Itung-itungan Waktu
Memang benar!!!!!!!!! Bekerja cari nafkah itu ibadah,
tapi bekerja yang bagaimana? Orang kita bekerja
sikut sanah sikut sinih, banting tulang banting
orang, tujuan utamanya cari uang buat beli barang-
barang biar dipandang orang-orang..
jarang orang menolak untuk di puji dan di puja
tatkala mereka berjaya

Pernah kita membaca bismillah saat hendak
berangkat kuliah tapi sayang hanya sekedar
pernah
Pernah kita berniat mulia saat hendak mencari
nafkah, tapi semuanya terlupa ketika melihat
gemerlapnya dunia.

Lalu kapan ibadahnya??????????????
Oh mungkin saat sholat yang 5 waktu itu dianggap
cukup..!
Karena kita pikir; sholat begitu besar pahalanya,
sholat amalan yang dihisab paling pertama, sholat
jalan untuk membuka pintu syurga
Kenapa kita harus cukup kalau ibadah kita
hanyalah sholat kita!!!!!!

Berapa sholat kita dalam 50 tahun??????
1x sholat =  10 menit ..5x sholat  1 jam
Dalam waktu 50 tahun waktu yang terpakai
sholat=18250 hari x I jam =18250 jam= 2 tahun

Kesimpulan: waktu yang kita manfaatkan dalam
50 tahun di dunia cuma 2 tahun untuk
sholat
2 tahun dari 50 tahun kesempatan kita.itupun
belum tentu sholat kita bermakna berpahala dan di
terima..
Dan sekiranya sholat kita selama 2 tahun
berpahala rasa-rasanya tidak sebanding dengan
perbuatan dosa-dosa kita selama 50 tahun; dalam
ucap kata kita yang selalu dusta, baik yang terasa
maupun yang di sengaja, dalam ucap kata kita
yang selalu cerca terhadap orangtua, dalam harta
kaya kita yang selalu kikir terhadap orang faqir,
dalam setiap laku langkah kita yang selalu
bergelimang dosa


Logika dari logikanya:
Bukan satu yang tidak mungkin kita umat di akhir
jaman akan berhamburan di neraka untuk
mendapatkan balasan kelalaian
Terlalu banyak waktu yang terbuang percuma
selama manusia hidup di dunia dan semuanya itu
akan menjadi bencana.

Solusi:
Tiada kata terlambat walaupun waktu bergulir
cepat, isilah dengan sesuatu apa yang bermanfaat
(bukan menurutmu tapi menurut islam)!!!!!!!
Ingat Akhirat!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
siapa tahu malam ini malaikat izrail berkunjung ke
rumahmu mo jemput ke kubur.
jangan ditunda tunda niatmu lakukan mulai detik
ini juga !!!
ingat di dunia kita cuman hidup puluhan tahun
di akhirat.... ratusan ribuan bahkan jutaan tahun
pake akal mu donk pikirkan perbedaannya yang
mencolok, sekali renungkan dalam hatimu mau
berfoya2 di dunia tapi bersuka duka di neraka ato
bersakit2 di dunia dan bersenang2 di surga sekian
lama

dikutip dari :Romy
posted by Asep @ 5:14 PM   2 comments
Tuesday, January 17, 2006
MAJALAH PLAYBOY
"Nama Playboy pastinya sudah tak asing di telinga kita," demikian Detik.com mengawali berita mengenai rencana akan terbitnya Majalah Playboy edisi Indonesia bulan Maret 2006 mendatang. Bagian Promosi Playboy Avianto Nugroho mengaku sudah mengantongi izin penerbitan. "Izin penerbitan itu sudah keluar sejak akhir November 2005 lalu," lanjutnya. (Detik.com, 12/1/2006).


Menurut Detik.com, jika rencana tersebut terlaksana, Indonesia akan menjadi negara kedua di Asia yang menerbitkan Majalah Playboy. Di Asia, selama ini hanya Jepang yang dipercaya manajemen Playboy untuk menerbitkan majalah porno ini.


Menyambut edisi perdananya yang segera beredar Maret 2006 mendatang, Playboy Indonesia akan menggelar audisi "Playmate". Model yang terpilih nantinya akan dikontrak selama satu tahun. Syaratnya, antara lain, model harus berusia minimal 18 tahun pada Februari 2006 mendatang. Para peserta audisi diwajibkan membawa bikini, juga pakaian dalam, gaun malam berpotongan seksi, dan sepatu berhak tinggi. (Detik.com, 12/1/2006).


Sebagian wakil organisasi Islam di Indonesia mulai bereaksi seputar rencana penerbitan majalah porno 'Playboy edisi Indonesia' ini. Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto, misalnya, menyatakan bahwa selama ini dirinya sudah merasa gerah dengan hadirnya berbagai media massa yang menampilkan pornografi dan mengumbar aurat sebagai efek liberalisme media. Apalagi sebelumnya, sejumlah media asing seperti FHM, EVE, ME sudah diterbitkan dalam edisi Indonesia. Karenanya, Ismail menghimbau umat Islam untuk mendesak segera diberlakukannya undang-undang anti-pornografi. (Hidayatullah.com, 14/1/2006).


Sementara itu, kalangan DPR, terutama Komisi VIII, hanya berharap agar desain majalah yang edisi perdananya akan terbit pada bulan Maret tersebut nantinya tidak seperti desain Playboy yang beredar di AS. "Jika desain Playboy di Indonesia seperti yang ada di Amerika Serikat, saya tidak setuju. Saya akan menggalang protes bersama dengan kawan-kawan," kata anggota DPR Komisi VIII Yoyoh Yusroh, yang juga anggota Fraksi PKS ini, seperti dikutip Detik.com (12/1/2006).


Yoyoh tidak mempermasalahkan rencana penerbitan majalah bergambar syur tersebut, asalkan pihak perusahaan ikut memperhatikan nilai budaya bangsa dan adat ketimuran sebelum menerbitkan Playboy. Ia berharap, jangan sampai majalah tersebut menimbulkan protes di masyarakat. Menurut Yoyoh, jika menerbitkan majalah menimbulkan reaksi keras dari masyarakat, maka DPR akan turun bersama dengan Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Kita akan turun kalau penerbitan majalah tersebut tidak sesuai dengan budaya bangsa dan adat ketimuran, katanya. Saat ini, DPR sedang merampungkan RUU Pornografi dan Pornoaksi. Batasan pornografi, menurut Yoyoh, seluruh tampilan mengenai tubuh manusia yang digunakan untuk komersial masuk kategori pornografi yang rencananya dilarang UU. UU memperbolehkan telanjang kalau itu sesuai budaya bangsa, seperti koteka untuk pria dan telanjang dada untuk perempuan di Papua, serta kemben di Jawa Tengah, katanya. (Detik.com, 12/1/2006).


Sebelum ramai rencana penerbitan Playboy edisi Indonesia, sebetulnya sudah beberapa wanita asal negeri ini yang rela difoto telanjang di majalah porno yang diterbitkan Playboy's International Publishing Group (IPG) itu. Tahun lalu, seorang wanita model kelahiran Solo, Tiara Lestari, pernah terpampang bugil di sampul majalah Playboy Spanyol edisi Agustus 2005. Tiara adalah gadis Indonesia pertama yang tampil bugil di majalah Playboy edisi Spanyol & Thailand. Karena rela telanjang, Lestari dinobatkan puji-pujian Playboy sebagai Naomi Campbell of Asia. Majalah porno Penthouse edisi Belanda, September 2005 bahkan menerbitkan 13 foto bugil dari Tiara Lestari. Sebelum dia, seorang gadis berdarah indo kelahiran Balikpapan juga tampil bugil di majalah tersebut. (Hidayatullah.com, 14/1/2006).

Serangan Budaya Barat


Ada apa sesungguhnya di balik rencana penerbitan Majalah Playboy edisi Indonesia ini? Disadari atau tidak, penerbitan majalah porno Playboy dan media sejenisnya di Tanah Air tidaklah murni terkait dengan unsur bisnis; ia adalah bagian dari serangan budaya Barat yang sedang dilancarkan oleh ideologi Kapitalisme-sekular terhadap Islam dan kaum Muslim. Entah disengaja atau tidak, setelah Islam dicap oleh Barat sebagai "ideologi setan'', setelah Khilafah Islam dipandang sebagai ancaman, setelah jihad disamakan dengan aksi teror; setelah kurikulum madrasah dan pesantren dipandang sebagai lembaga yang berpotensi mengajarkan terorisme; setelah para khatib dicurigai sebagai menebarkan kebencian; dan setelah kaum Muslim diidentikkan dengan kaum teroris, di Tanah Air umat Islam kini dihadapkan pada berbagai serangan budaya Barat yang semakin gencar. Belum reda umat dibombardir oleh rencana di seputar legalisasi aborsi dan pendirian ATM Kondom yang secara tidak langsung akan mendorong tumbuh-suburnya budaya seks bebas khas Barat, kini umat Islam direcoki oleh rencana penerbitan sebuah majalah yang telah menjadi ikon majalah porno dunia itu. Jujur saja, Majalah Playboy edisi Indonesia sebetulnya hanyalah melengkapi berbagai majalah dan tabloid porno yang selama ini juga sudah banyak beredar di Tanah Air. Majalah Playboy edisi Indonesia juga mungkin "belum seberapa" dibandingkan dengan VCD-VCD porno yang sudah lama dan sudah banyak beredar secara bebas di pasaran, yang pastinya lebih dahsyat pengaruhnya karena berbentuk "gambar bergerak". Begitu dahsyatnya, banyak pelaku hubungan seks bebas di kalangan para remaja atau pelajar SMA/SMP, ataupun pelaku perkosaan terhadap anak-anak di bawah umur mengaku bahwa mereka melakukan tindakan bejat itu akibat sering menonton VCD-VCD porno itu.


Tampaknya, Indonesia memang menjadi sasaran utama dari serangan budaya Barat sekular melalui pornografi, pornoaksi, dan seks bebas ini. Barat menyadari, Indonesia adalah negeri Islam dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, yang berpotensial menjadi salah satu ancaman mereka. Karena itu, untuk melemahkan moral generasi muda Muslim dan melenakan mereka dalam kubangan hedonisme tanpa disadari oleh mereka sendiri, Barat melancarkan serangan budaya permissif (serba boleh) seperti pornogarafi, pornoaksi, dan seks bebas. Tujuan akhirnya adalah semakin menjauhkan kaum Muslim dari ideologi Islam, dan pada akhirnya menghancurkan ideologi Islam itu sendiri.


Sebagaimana kita ketahui, sebuah ideologi memiliki peradaban sendiri. Yang dimaksud dengan peradaban adalah sekumpulan pemahaman tentang kehidupan yang didasarkan pada ideologi tertentu. Barat dengan ideologi Kapitalisme-sekularnya, misalnya, telah melahirkan peradaban yang materialistik dan sekular seperti demokrasi, HAM, liberalisme (kebebasan), permissivisme (perilaku serba boleh), dll. Pornografi, pornoaksi, dan seks bebas adalah bagian dari peradaban Barat yang standarnya juga bersifat materialistik dan sekular (menihilkan agama). Dalam kacamata peradaban Barat, pornografi, pornoaksi, dan seks bebas adalah sah-sah saja. Semua itu boleh selama mendatangkan nilai-nilai, manfaat, dan keuntungan yang bersifat materi; juga selama sesuai dengan tolok ukur sekularisme.


Sebaliknya, ideologi Islam telah melahirkan peradaban yang berbeda bahkan bertolak belakang dengan peradaban Barat sekular. Ideologi Islam telah melahirkan peradaban yang terikat oleh wahyu (syariah). Islam telah mengharamkan pornografi dan pornoaksi maupun seks bebas. Islam telah mengharamkan demokrasi yang menempatkan kedaulatan di tangan rakyat, melarang liberalisme (kebebasan), dan menentang permissivisme (perilaku serba boleh). Islam justru mengajari manusia untuk menjadikan kedaulatan hanya berada di tangan syariah:

]إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ ِللهِ[

Menetapkan hukum itu adalah hak Allah. (QS al-An'am [6]: 57).

Islam juga mengajari manusia untuk senantiasa terikat dengan syariah karena setiap amal perbuatan manusia, baik atau buruk, akan dibalas oleh Allah di akhirat kelak:

]فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ[

Siapa saja yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa saja yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula. (QS al-al-Zalzalah [99]: 7-8).

Kerudung dan jilbab-yang hukumnya wajib bagi wanita-adalah di antara bagian dari peradaban Islam yang agung, yang berbeda dengan pakaian-pakaian wanita ala Barat yang banyak mengumbar aurat dan merendahkan martabat mereka.

Sikapi Secara Ideologis


Dari paparan di atas, jelaslah bahwa sudah selayaknya umat Islam menyikapi rencana perbitan Majalah Playboy ini dari kacamata ideologis, bukan semata-mata kacamata moral, budaya bangsa, atau budaya ketimuran. Sebab, belum tentu standar moralitas, budaya bangsa, dan adat ketimuran yang kita anut sesuai dengan standar moralitas (akhlak), budaya, dan tradisi Islam. Jika patokannya adalah Islam, jelas tidak benar jika UU Anti Pornografi nanti memperbolehkan telanjang asalkan sesuai dengan budaya bangsa, seperti telanjang dada untuk perempuan di Papua atau mengenakan kemben sebagaimana wanita-wanita di Jawa Tengah. Dasarnya adalah Hadis Nabi saw. Disebutkan bahwa Aisyah pernah bertutur sebagai berikut:

«أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ، فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ: يَا أَسْمَاءُ، إِنَّ الْمَرْأَةَ، إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ، لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ»

Sesungguhnya Asma binti Abu Bakar pernah memasuki rumah Rasulullah saw. dalam keadaan memakai pakaian tipis sehingga Rasulullah saw. berpaling darinya. Beliau kemudian bersabda, "Wahai Asma', jika seorang wanita telah mengalami haid, ia tidak layak memperlihatkan tubuhnya kecuali ini dan ini-seraya menunjuk pada wajah dan kedua telapak tangan beliau." (HR Ibn Majah).

Lebih dari itu, Allah SWT juga telah memerintahkan secara tegas agar kaum wanita mengenakan kerudung (QS an-Nur [24]: 31) di hadapan lelaki yang bukan mahram-nya dan memakai jilbab (QS al-Ahzab [33]: 59) ketika hendak keluar rumah. Di dalam sebuah hadis Nabi saw. juga disebutkan bahwa Ummu Athiyah pernah bertutur:

«أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي يَوْمِ الْفِطْرِ وَالنَّحْرِ قَالَ قَالَتْ أُمُّ عَطِيَّةَ فَقُلْنَا أَرَأَيْتَ إِحْدَاهُنَّ لاَ يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ فَلْتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا»

Rasulullah saw. telah memerintahkan kami (kaum wanita) untuk keluar pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Kurban. Dikatakan, Ummu Athiyah berkata: Kami mengatakan, "Tidakkah engkau melihat salah seorang di antara mereka tidak memiliki jilbab?" Rasul menjawab, "Kalau begitu, hendaklah saudaranya memakaikan (meminjamkan) jilbab itu kepadanya." (HR Ibn Majah dan Ahmad).

Walhasil, bisa dikatakan, menurut kacamata Islam, pornografi adalah setiap upaya memperlihatkan aurat (pria/wanita) kepada publik; baik dikomersialkan atau tidak, baik menuai protes keras masyarakat atau tidak.

Wahai kaum Muslim:


Hendaklah kita menyadari bahaya serangan budaya Barat lewat pornografi, pornoaksi, dan seks bebas ini. Janganlah kita selalu berpangku tangan. Haruskah kita menunggu akibatnya yang akan menimpa anak-anak kita? Relakah kepribadian anak-anak kita dirusak oleh berbagai media porno? Relakah kita membiarkan generasi muda kita terjerumus ke dalam pergaulan bebas? Tidakkah kita takut dengan azab Allah akibat kita membiarkan berbagai kemungkaran yang melanda masyarakat kita saat ini. Renungkanlah sabda Rasul saw. berikut:

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ»

Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian melakukan amar makruf nahi mungkar atau Allah akan menimpakan atas kalian siksaan dari-Nya, kemudian kalian berdoa kepada-Nya, lalu doa kalian tidak dikalbukan-Nya. (HR at-Tirmidzi dan Abu Dawud). []

KOMENTAR AL-ISLAM
Pengamat: Ada Kepentingan Ideologi di Balik Penerbitan Playboy (Detik.com, 13/01/06)
Tidak lain, kepentingan ideologi kapitalisme untuk menghancurkan kepribadian kaum Muslim.

sumber : Buletin al-Islam Edisi 288
posted by Asep @ 7:35 PM   4 comments
Eh, Sudah Dewasa Belum?
Kamu udah dewasa kan? Kalo belum, pertanyaan di judul ini kayaknya perlu
dijawab dengan tegas. Tapi saya rasa kamu yang pada baca buletin ini sudah
banyak yang dewasa. Ayo, ngaku aja (bukan nuduh lho, tapi ini sekadar
menegaskan). Eh, tapi nggak salah juga kalo ada yang baca buletin ini masih
belum dewasa alias belum baligh, misalnya anak SD dan SMP. Silakan aja.

Sobat muda, kalo lihat tayangan televisi di sudut kiri atas atau kadang di
bawah kiri (tergantung maunya masing-masing pengelola televisi sih) biasanya
suka tercantum lambang: “Dewasa” dengan huruf “D”, “Bimbingan Orangtua”
dengan ikon “BO”, dan “Anak-anak” ditulisi dengan ikon “A”; malah ada juga
tontonan satu untuk semua—”SU” alias Semua Umur. Meski efektifitasnya juga
masih belum terbukti dengan bagus.

Oya, konon kabarnya pelabelan itu sebagai bentuk kepedulian pihak
penyelenggara siaran untuk mengelompokkan pemirsanya. Jadi, mereka merasa
bahwa dengan memberikan panduan seperti itu para orangtua bisa memantau
anak-anaknya dalam menonton tayangan televisi. Misalnya, kalo sebuah
tayangan tercantum lambang “Dewasa”, maka ortu berhak menegur anaknya atau
memintanya dengan cepat untuk mengalihkan ke chanel lain. Nah, kamu termasuk
kelompok yang mana nih? Udah dewasa belum? (jawab dalam hati aja ya… soalnya
ada juga yang udah bangkotan tapi masih seneng film kartun—yee apa
hubungannya? Emangnya film kartun khusus anak? Nggak juga kan?—ini kok malah
ngelantur kemana-mana)

Oya, sebenarnya dalam “kamus” ajaran Islam tak dikenal istilah remaja.
Ajaran Islam dalam menilai manusia itu hanya dengan dua kriteria: anak-anak
dan dewasa. Perubahan dari dunia anak-anak menjadi dewasa ditandai dengan
perubahan pada hormon-hormon seksualnya, seperti pada anak laki-laki sudah
mengalami ihtilam (mimpi basah, yakni pas mimpi keluar sperma, bukan karena
diguyur air se-ember). Buat anak perempuan sudah mulai haid alias datangnya
‘tamu bulanan’. Dalam Islam, kejadian itu dikenal dengan istilah sudah
“baligh”.

Nah, jika sudah baligh, berarti ia sudah terbebani hukum (mukallaf).
Artinya, segala perbuatannya dalam menjalani kehidupan ini akan dicatat.
Jika berbuat baik, pahala ganjarannya, jika berbuat salah, dosa yang ia
dapat. Tapi jika masih anak-anak, tak akan dinilai baik atau buruk,
sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Diangkat pena dari tiga orang; orang
yang tidur sampai ia bangun, anak hingga baligh, dan orang yang gila sampai
ia sembuh.” “Pengangkatan pena” (tidak dicatat amalnya)dari mereka maksudnya
adalah mereka bukanlah mukallaf secara syar’i.

Mengenal pubertas
Rasanya nggak ada salahnya jika teman remaja mengenal masa-masa ini. Bahkan
mungkin sangat perlu, karena emang berkaitan dengan kehidupan kita sendiri.
Nah, dalam perkembangan fisik dan jiwa manusia, para pakar psikologi
mengenalkan istilah “masa pubertas” atau puber. Omong-omong, pada usia
berapa sih remaja mengalami pubertas?
Menurut para ahli perkembangan jiwa, usia remaja mengalami pubertas adalah
pada usia 14 - 16 tahun. Masa ini disebut juga “masa remaja awal”, dimana
perkembangan fisik mereka begitu menonjol. Remaja sangat cemas akan
perkembangan fisiknya, sekaligus bangga bahwa hal itu menunjukkan bahwa ia
memang bukan anak-anak lagi. Catet, bukan anak-anak lagi, lho.

Pada masa ini, emosi remaja menjadi sangat labil akibat dari perkembangan
hormon-hormon seksualnya yang begitu pesat. Keinginan seksual juga mulai
kuat muncul pada masa ini. Pada remaja wanita ditandai dengan datangnya
menstruasi yang pertama, sedangkan pada remaja pria ditandai dengan
datangnya mimpi basah yang pertama.

Remaja akan merasa bingung dan malu akan hal ini, sehingga orang tua harus
mendampinginya serta memberikan pengertian yang baik dan benar tentang
seksualitas. Jika hal ini gagal ditangani dengan baik, perkembangan psikis
mereka khususnya dalam hal pengenalan diri/gender dan seksualitasnya akan
terganggu. Kasus-kasus gay dan lesbi banyak diawali dengan gagalnya
perkembangan remaja pada tahap ini.

Di samping itu, remaja mulai mengerti tentang gengsi, penampilan, dan daya
tarik seksual. Karena kebingungan mereka ditambah labilnya emosi akibat
pengaruh perkembangan seksualitasnya, remaja sukar diselami perasaannya.
Kadang mereka bersikap kasar, kadang lembut. Kadang suka melamun, di lain
waktu dia begitu ceria. Perasaan sosial remaja di masa ini semakin kuat, dan
mereka bergabung dengan kelompok yang disukainya dan membuat
peraturan-peraturan dengan pikirannya sendiri. Itu sebabnya, cenderung semau
gue.

Kesalahan berpikir
Seringkali para orangtua menilai bahwa remaja yang berbuat “aneh” dan bahkan
terkesan nakal dianggap sebagai sebuah kewajaran. Dianggap biasa saja.
Misalnya, ketika ada temen-temen remaja yang mengecat rambutnya pakai pylox
disikapi bahwa itu bagian dari perkembangan jaman. Melihat remaja yang asyik
berpacaran, tak merasa bahwa itu membahayakan. Apalagi sampai berdalil,
“Saya juga dulu seperti itu...” Wah, musibah besar namanya nih kalo ada ortu
yang berpikiran kayak gitu.

Nggak hanya itu, seringkali juga para orangtua secara umum membiarkan bebas
anak remjanya untuk berbuat sesukanya dengan alasan bahwa itu bagian dari
upaya mencari jadi diri. Kalo dikekang, bisa berbahaya. Nah, jika dikekang
bisa berbahaya, apakah ada jaminan kalo dibiarkan bebas sesukanya tidak akan
membahayakan? Betul ndak?

Sobat muda muslim, kesalahan berpikir seperti ini nggak cuma ada di kalangan
para orangtua, tapi juga di antara kita sendiri. Yup, kita sendiri
seringkali menganggap enteng masalah. Bahkan kesannya mengampuni diri
sendiri dan memiliki standar ganda dalam menilai satu masalah. Aneh banget
kan? Misalnya, ketika terlibat tawuran kita bilang ke temen-temen dan ke
orang-orang bahwa kita sebagai remaja pemberani. Ketika kita pacaran, kita
bilang ke siapa pun bahwa kita sudah dewasa. Udah gede. Tapi ketika ada
razia KTP atau kena batunya pas digiring ke kantor polisi, kita ngaku-ngaku
masih anak-anak. Biar nggak kena sanksi alias hukuman. Gimana nih?

Kondisi seperti ini kalo boleh dibilang sebagai “kedewasaan yang menjanin”
dan masa kanak-kanak yang “menua”. Artinya, masa remaja adalah masa
transisi. Lepas dari masa kanak-kanak dan masuk (tapi belum semuanya) ke
masa dewasa. Jadi masih bisa berubah-ubah alias belum stabil. Di sinilah
perlunya bimbingan yang benar dan arahan yang jelas dan pasti. Tidak
dikekang, tapi juga tidak dibiarkan liar. Sehingga tidak terjadi kesalahan
dalam berpikir. Baik bagi para orangtua yang menilai perilaku remaja, maupun
bagi teman remja itu sendiri. Karena apa? Karena kesalahan dalam berpikir
akan membawa dampak yang parah pada penilaian dan penanganan kasus yang
terjadi di kalangan remaja. Contohnya, untuk tindak kriminal remaja, polisi
biasanya tidak bisa memberi hukuman seperti kepada orang dewasa. Bahkan
cenderung hanya memberi sanksi ringan. Padahal, dalam Islam, jika sudah
baligh ya sudah masuk kategori dewasa. Jadi jelas sudah terbebani hukum. Dia
wajib melaksanakan perintah dan wajib pula menghindari larangan yang diatur
dalam ajaran agama.

Bukan cuma tongkrongan dan ‘onderdil’
Nah, ngomongin tentang kedewasaan, jadi teringat sebuah semboyan iklan rokok
yang berbunyi, “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan”. Cukup bagus dan
menyegarkan. Kenapa? Karena usia tua itu pasti, tapi soal kedewasaan
berpikir belum tentu berbanding lurus dengan usianya. Sebaliknya, meski
masih usia 17-an (setelah baligh), tapi sudah dewasa secara pikiran. Itulah
kenapa dewasa itu disebut sebagai pilihan. Karena apa? Karena memang bisa
dipilih. Bisa diupayakan untuk ‘mengatur’ diri ini dengan hiasan amal kita.
Amal yang baik, atau amal yang buruk. Tapi, sebagai seorang muslim, tentunya
kita wajib banget untuk memilih jalan hidup dan amal perbuatan yang memang
dibenarkan oleh Islam. Oke?

Dalam pandangan Islam, dewasa tidak hanya ditinjau dari perubahan secara
biologis, tapi juga pola berpikir. Itu sebabnya, jika seorang remaja sudah
berpikir dewasa, maka ia akan tahu arti tanggung jawab, meminta maaf,
berkorban untuk orang lain, menghormati orang lain, berjuang untuk agama,
patuh pada orang tua, amanah, jujur, cinta dan kasih, taat pada aturan Allah
Swt. dsb. Jika masih gemar melakukan kemaksiatan, berarti belum dewasa
secara pikiran. Padahal, secara biologis sudah sangat dewasa, gitu lho.

Itu sebabnya, seringkali kita saksikan dalam kehidupan nyata ada orang yang
masih betah berbuat maksiat. Padahal, umurnya sih udah menjelang “maghrib”
alias udah sepuh. Kepada model orang yang seperti ini, kita bisa bilang
bahwa dia belum dewasa. Secara fisik memang udah dewasa, tapi secara
pemikiran dan perbuatannya masih “anak-anak”. Cemen deh!
Sobat muda muslim, dengan kata lain, bukan cuma tongkrongan dan ‘onderdil’
di tubuh sebagai ukuran untuk menilai sebuah kedewasaan. Terlalu sederhana.
Karena dalam Islam, selain ukuran fisik, cara berpikir dan apa yang
dilakukan juga harus masuk penilaian.

Menyiapkan diri jadi dewasa
Karena menjadi dewasa adalah sebuah “pilihan”, maka tentunya harus
direkayasa alias disiapkan. Nggak bisa dibiarkan alami. Karena memang jadi
dewasa dalam cara berpikir itu bukan kebetulan, tapi pilihan. Itu sebabnya,
ada pelatihannya juga. Memang sih, model pelatihannya nggak perlu dibuat
semacam jenjang akademik, tapi melalui “schooling society” (sekolah
kehidupan). Di sinilah kita belajar. Istilahnya, “learning society”.
Belajar dari masyarakat.

Kita bisa membandingkan para pemuda Islam di jaman Rasulullah saw. Banyak
para pemuda di jaman itu yang rindu dan cintanya kepada Islam sangat besar.
Salah satunya yang membuat mereka seperti itu adalah karena kondisi
kehidupannya mendukung. “Sekolah kehidupan” telah mengajarkan dan membentuk
kepribadian yang begitu hebat. Itu sebabnya, jika sekarang banyak remaja
yang amburadul ketimbang remaja yang baik-baik, itu juga karena model
kehidupan yang diajarkan di masyarakat nggak benar. Gimana pun juga,
individu itu pasti akan terwarnai oleh kondisi masyarakat. Kalo
masyarakatnya rusak seperti sekarang, kayaknya udah alhamdulillah banget
kalo masih ada remaja yang selamat kepribadiannya.

Sobat muda muslim, singkat kata, untuk menjadi remaja yang dewasa tentu
satu-satunya cara adalah dengan belajar. Tanpa belajar, kita nggak akan tahu
bagaimana cara berpikir yang dewasa dan islami, kita nggak akan ngeh juga
seperti apa berbuat yang benar, dewasa, dan sesuai ajaran Islam. Sabda
Rasulullah saw.: “Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka
dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya
dengan belajar.” (HR Bukhari)

Nah, untuk memudahkan kita dalam berpikir dan berbuat dewasa dalam pandangan
Islam, wajib juga adanya peran besar dari negara untuk mewujudkannya.
Seperti apa? Misalnya, negara harus mengawasi isi media massa untuk remaja.
Kalo merusak, tegur. Bila bandel, beri sanksi. Terus, rajin juga ngasih
pembinaan mental. Setuju? [fahmarosyada: fahmarosyada@yahoo.co.id]
posted by Asep @ 7:27 PM   0 comments
Profil
Profil Facebook Asep Firman
Buat lencana kamu sendiri
Tentangku
My Photo
Name:
Location: Kelapa Gading, Jakarta, Indonesia

Manusia biasa yang sedang meretas jalan untuk meraih ridho Illahi

Banner 1
Banner 2
Udah Lewat
Arsip Lama
Sekilas Info


.:AGENDA & REGARD:.
Akhir-akhir ini banyak berkutat dengan soal-soal UAS, maklum bentar lagi UAS kan...hehehe..
Afwan, kepada siapa saja kalau akhir-akhir ini saya kurang respon karena kondisi kesehatan agak terganggu nich...mudah-mudahan tidak mengurangi ukhuwwah kita..

Shillah Ukhuwwah
Pengingat Waktu

Anda Pengunjung Yang Ke :

Counter Stats
travel insurance
travel insurance Counter -->

Link Website

Bahan Renungan


.:Wise Words:.
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS. Al Maidah 50)

Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.(Qs. Thahâ [20]: 124).

Dia-lah (Allah) yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkan di atas segala agama-agama walau pun orang-orang musyrik benci. (QS Ash-Shaff [61] : 9)

Apabila kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan akan meneguhkan kedudukan kalian di muka bumi. (TQS Muhammad:7)

Sesungguhnya Allah Swt. berfirman,"Barangsiapa menghinakan wali (kekasih)-Ku, ia telah terang-terangan memusuhi-Ku. Wahai Anak Adam, engkau tidak akan mendapatkan apa saja yang ada pada-Ku kecuali dengan melaksanakan perkara yang telah Aku fardhukan kepadamu. Hamba-Ku yang terus-menerus mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan melaksanakan ibadah sunah, maka pasti Aku akan mencintainya. Maka (jika Aku telah mencintainya) Aku akan menjadi hatinya yang ia berpikir dengannya; dan Aku menjadi lisannya yang ia berbicara dengannya; dan Aku menjadi matanya yang ia melihat dengannya. Jika ia berdo'a kepada-Ku, maka pasti Aku akan memberinya. Jika ia meminta pertolongan kepada-Ku, maka pasti Aku akan menolongnya. ibadah hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah memberikan nasihat(Dikeluarkan oleh ath-Thabrani dalm Kitab al-Kabir)

Backsound


Afiliasi
15n41n1
 Blognya Indonesian Muslim Blogger?E