Friday, March 10, 2006
3 Maret, 82 Tahun Lalu...
Bagi sebagian kita, tanggal 3 Maret mungkin nggak ada bedanya ama
tanggal-tanggal yang laen. Nggak lebih istimewa dari tanggal 1 Januari atau
14 Pebruari yang yang dinanti jutaan penduduk bumi untuk berpesta-pora.
Padahal 82 tahun lalu, tanggal 3 Maret merupakan detik-detik sakaratul maut
kaum Muslim sedunia saat akan kehilangan pengayom, pelindung, penjaga, dan
pelayan mereka.

Yup, di tanggal itu pemersatu kaum Muslimin di seluruh dunia berhasil
dihapuskan dari muka bumi oleh seorang Mustafa Kemal at-Turk yang didukung
penuh oleh Inggris. Akibatnya cukup fatal. Kaum Muslim nggak punya pemimpin
yang satu sehingga dengan mudah terzhalimi dan terpecah belah dalam
sekat-sekat nasionalisme.

Padahal dulu, di bawah payung Kekhilafahan, Islam mampu menjamin keamanan
dunia, menyatukan umat manusia, menciptakan kemajuan ekonomi, menjamin
kesehatan masyarakat, melahirkan para ilmuwan legendaris, dan menebar rahmat
ke seluruh alam selama hampir 14 abad. Yang jadi pertanyaan, kenapa eh
kenapa.. khilafah bisa kalah?



Runtuhnya kekhilafahan Islam terakhir



Pada perang Dunia I (1914 M), Inggris berhasil menduduki Istambul, Turki.

Seorang agen Inggris keturunan Yahudi Dunamah dari Salonika, Mustafa Kemal
Pasha, ditugaskan untuk menjalankan agenda Inggris di Turki sebagaimana
tercantum dalam “pernyataan Curzon”, yaitu: penghapusan Khilafah secara
total, pengusiran khalifah sampai keluar batas-batas negara, penyitaan
kekayaan khalifah, dan pernyataan sekularisasi negara. Pernyatan ini
merupakan syarat yang harus dipenuhi Turki untuk mendapatkan kemerdekaannya
dari Inggris.

Untungnya mayoritas anggota Majelis Nasional Turki yang berpusat di Ankara
dengan tegas menentang apa yang tercantum dalam pernyataan Curzon. Sialnya,
konco-konco Kemal berhasil menghasut anggota Majelis yang tengah merumuskan
pemerintahan baru sehingga berujung permintaan bantuan kepada Mustafa Kemal
untuk membentuk pemerintahan baru.

Dalam kesempatan ini, Kemal me-launching rencananya untuk merubah
pemerintahan Turki menjadi negara republik sekuler. Para anggota Majelis
Nasional yang tidak setuju dengan rencananya diancam akan dibunuh dan
dihukum gantung. Akhirnya Majelis Raya Nasional menggelar sidang pada
tanggal 01 Maret 1924 selama tiga hari untuk mensikapi adanya dualisme
pemerintahan di Ankara dan Istambul. Terjadi perdebatan alot dan sengit
karena Mustafa Kemal sebagai pimpinan majelis terang-terangan hendak
menghapus kekhilafahan Islam yang dipimpin Khalifah Abdul Majid II di
Istambul.

Dan tepat pada pagi hari tanggal 03 Maret 1924, Majelis Nasional mengumumkan
telah menyetujui penghapusan khilafah dan pemisahan agama dari urusan-urusan
negara. Malamnya, Khalifah Abdul Majid II diusir dari rumah kediamannya atas
perintah Mustafa Kemal. Khalifah dipaksa masuk mobil dan dibawa melintasi
perbatasan negara menuju Swiss. Kemudian diturunkan dengan dibekali satu
kopor berisi beberapa potong pakaian dan sejumlah uang.

Dengan demikian, Mustafa Kemal telah berhasil memenuhi persyaratan Curzon,
Menteri Luar Negeri Inggris saat itu, untuk mendapatkan pengakuan atas
kemerdekaan Turki. Di Gedung Parlemen Inggris, Curzon menyatakan, “...Turki
telah dihancurkan dan tidak akan pernah bangkit lagi, karena kita telah
menghancurkan kekuatan spiritual mereka, yaitu Khilafah dan Islam...”

Setelah berhasil menduduki singgasana kekuasaan Turki, Musthafa Kemal makin
arogan. Ia melarang penggunaan peci dan sorban yang digantinya dengan topi
ala Barat. Ia melarang penulisan dengan huruf Arab dan memerintahkan
penulisan dengan huruf latin. Ia melarang kaum wanita mengenakan busana
muslimah. Malah memerintahkan untuk mengumbar aurat dan bergaul bebas dengan
lawan jenis. Ia membubarkan sekolah-sekolah agama dan menghapuskan pelajaran
agama di sekolah. Bahkan ia mewajibkan para muazin mengumandangkan Azan
dalam bahasa Turki.

Lucunya, banyak kaum Muslim yang tertipu dengan sosok yang satu ini. Dalam
pelajaran Sejarah yang diajarkan di sekolah, julukan tokoh Pembaharu Turki
yang bergelar Ataturk (Bapak Turki) membawanya sejajar dengan para pahlawan
mulia pejuang kemerdekaan. Padahal jelas banget dia yang memusuhi dan
menghancurkan kekhilafahan Islam serta memaksa umat Islam hidup dengan
aturan sekuler Barat. Makanya kita kudu hati-hati dengan manipulasi sejarah.
Betul?



Khilafah Islamiyah, kudu ada!



Sobat, saat ini setiap hari mata dan kuping kita diempanin berita-berita

seputar keadaan kaum Muslimin di seluruh dunia. Baik di Timur tengah, Eropa,
Asia, Afrika, Australia, hingga dalam negeri sendiri. Dari sekian banyak
berita yang mampir di telinga kita, sedikit banget kabar baik yang kita
terima kalo nggak dibilang nol. Yup, hampir di seluruh dunia keadaan kaum
Muslimin terpuruk sampe level mengenaskan.

Di Timur tengah, kemenangan HAMAS dalam pemilu tak menghentikan agresor
Israel dalam menumpahkan darah sodara-sodara kita di Palestina. Seperti yang
terjadi pada ahad (26/2) kemaren ketika militer zionis memaksa muslimah
melepas jilbab dan menembak 2 Muslim Palestina yang berusaha menolong
muslimah itu (Eramuslim, 27/02/06).

Di Eropa, ajaran Islam dan kaum Muslimin menjadi bulan-bulanan ekspresi
kebencian musuh-musuh Islam. Seperti yang pernah terjadi di Perancis saat
pemerintahan Jacques Chirac melarang muslimah menggunakan jilbab di
tempat-tempat umum. Atau pemuatan kartun yang melecehkan Nabi Muhammad saw
oleh surat kabar Denmark Jylland Posten yang memicu kemarahan kaum Muslim
sedunia.

Di kawasan Asia, pemerintahan Karimov tak henti-hentinya membekap
suara-suara lantang dari para pejuang Islam Uzbekistan yang membongkar
kezhaliman pemerintahannya. Hingga terjadi tragedi dalam aksi damai di
Andijan (13/05/05) yang memakan korban tewas sekitar 500 warga muslim dan
2000 lainnya terluka akibat penembakan brutal aparat keamanan Karimov
terhadap pengunjuk rasa.

Di Afrika, dengan status minoritas yang disandang kaum Muslim, diskriminasi
kerap menghampiri mereka. Seperti yang terjadi di Afrika selatan dalam kasus
pemecatan seorang Muslimah dari tempatnya bekerja karena mengenakan jilbab.
(Eramuslim, 26/07/05).

Di Australia, diskriminasi terhadap kaum Muslim menjadi bagian dari perilaku
pemerintahan John Howward. Menteri Keuangan Negara Australia, Petter
Costello menyatakan, warga Muslim yang tidak menghormati hukum dan anti
sekularisme, dipersilahkan untuk meninggalkan Australia. (Eramuslim,
25/08/05).

Di dalam negeri, kebijakan-kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat
berhamburan. Ada kenaikan BBM sampe dua kali di tahun 2005 yang otomatis
diikuti dengan kenaikan Tarif Dasar Listrik, Telepon, hingga harga-harga
kebutuhan pokok. Sampe kehadiran nenek moyang media porno, Majalah Playboy
yang pengen buka cabang di negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini.

Permasalahan yang menimpa umat Islam sedunia seperti yang dipaparkan di
atas, berawal ketika kaum Muslim kehilangan institusi Khilafah Islamiyah
yang menyelamatkan kehidupan umat manusia. Kini saatnya kita ngeh kalo
keberadaan Khilafah Islamiyah penting banget nggak cuma bagi umat Islam,
tapi untuk seluruh dunia. Catet tuh!



Aturan Islam antidiskriminasi



Geliat kaum Muslim yang merindukan kehadiran Khilafah boleh jadi merupakan

sebuah mimpi buruk yang menghantui musuh-musuh Islam. Pasalnya, mereka parno
(baca: paranoid) banget dengan aturan Islam yang dianggapnya hanya
menguntungkan kaum Muslim dan mengancam kehidupan warga non Muslim. Padahal,
sejarah justru menghadirkan fakta yang sebaliknya.

Orang-orang non-Muslim yang hidup dalam Daulah Islamiyah alias kafir dzimmi,
punya hak yang sama dengan kaum Muslim. Harta dan darah mereka terjaga sama
seperti kaum Muslim. Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang membunuh
kafir mu’ahad (yang mengadakan perjanjian dengan Daulah Islamiyah, red.),
dia tidak akan mencium wangi surga, padahal sesungguhnya wangi surga itu
sudah bisa tercium dari jarak perjalanan 40 tahun.” (HR al-Bukhari).

Nggak ada dalam kamusnya orang non-Muslim dipaksa untuk masuk Islam. Apalagi
sampe memberangus tempat ibadah mereka. Nggak ada tuh. Yang ada justru Islam
melindungi mereka selama mereka akur-akur aja hidup berdampingan dengan kaum
Muslim. Kafir dzimmi selain wanita, anak kecil, orang miskin, lemah, dan
membutuhkan sedekah, hanya diwajibkan sekadar membayar jizyah saja. Mereka
tidak dipungut biaya-biaya lain, kecuali jika hal itu merupakan syarat yang
disebut dalam perjanjian. (an-Nabhani, asy-Syakshiyyah al-Islâmiyyah,
II/237).

Pada waktu Umar bin al-Khaththab menjadi khalifah, beliau mendapatkan
seorang musyrik tua yang mengemis karena kemiskinannya. Beliau lalu berkata,
“Celakalah kita. Kita telah menarik jizyah darinya sewaktu muda. Lalu apakah
kita akan menelantarkannya ketika tua?” Umar lalu memerintahkan bawahannya
agar memberikan santunan dari Baitul Mal secara teratur kepada orang
tersebut dan membebaskannya dari membayar jizyah.



Islam is the only solution




Sobat, sejak keruntuhan Khilafah dan dijauhkannya aturan Islam dalam

kehidupan, otomatis aturan Kapitalisme-Sekulerisme yang dibawa penjajah
Barat serta merta mengambil alih. Liberalisasi ekonomi yang diusung IMF
telah menjajah negeri-negeri Muslim. Sistem pemerintahan Demokrasi hanya
melahirkan kebijakan-kebijakan yang memusuhi rakyat. Dan gaya hidup Barat
yang bebas cuma bikin puyeng masyarakat aja dengan makin lestarinya
masalah-masalah sosial dan dekadensi moral di tengah mereka.

Akhirnya, hidup dalam aturan Kapitalisme emang bikin bete. Kemiskinan yang
melahirkan dorongan orang berbuat nekat kian merakyat. Kriminalitas
dijadikan jalan pintas untuk meraih materi. Pendidikan hanya menjadi klub
elit bagi yang berduit. Layanan kesehatan berjalan mulus bin lancar bagi
yang berkantong tebal. Belum lagi ongkos untuk bisa tetep hidup layak yang
kian meninggi. Masa’ mau hidup kaya gini terus?

Tentu nggak dong. Makanya kita wajib nyadar kalo aturan hidup selain Islam
nggak akan pernah bikin tentram. Mau kapitalisme, sekulerisme, sosialisme,
atau komunisme, semuanya cuma bikin rakyat tambah melarat. Firman Allah
Swt.:“Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, Maka Sesungguhnya baginya
penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat
dalam keadaan buta.” (QS Thahaa [20]: 124)

Itu sebabnya, cuma satu pilihan untuk memperbaiki kehidupan kita, back to
Islamic Ideology. Yup, saatnya kita memperjuangkan kembali tegaknya
pemerintahan Islam yang akan beresin semua permasalahan hidup kita dan umat
manusia di seluruh dunia dengan aturan Islam yang mulia. Mari kita sama-sama
ambil bagian dalam barisan perjuangan menegakkan kembali Khilafah Islamiyah
‘ala minhajin nubuwah. Bukan karena fanatisme golongan atau kelompok dakwah.
Tapi semata-mata untuk memuliakan dan menjaga ajaran Allah Swt. Saatnya
Khilafah memimpin dunia dan mengalahkan dominasi seluruh ideologi kufur yang
ada di dunia ini. Yuuuk?! [Hafidz: hafidz341@telkom.net]
posted by Asep @ 11:46 AM   0 comments
Thursday, March 09, 2006
Penambangan oleh Freeport: PENJAJAHAN BERKEDOK INVESTASI

Indonesia berada dalam cengkeraman asing. Demikianlah ungkapan yang sesuai untuk menggambarkan permasalahan seputar perusahaan multinasional yang bergerak dalam bidang pertambangan, Freeport. Betapa tidak? Untuk menghadapi sebuah perusahaan multinasional ini saja Pemerintah seolah-olah tidak punya 'taji' sama sekali; cenderung 'tunduk' terhadap setiap kemauannya. Padahal sudah tampak betapa Freeport telah menebar kerusakan, kesengsaraan, dan kerugian yang luar biasa hebat dan berat.

Pertama: Sejak bulan April tahun 1967 Freeport telah memulai kegiatan eksplorasinya di Papua-yang diperkirakan mengandung cadangan bijih emas terbesar di dunia-sebanyak 2,5 miliar ton melalui Kontrak Karya I yang penuh dengan intrik dan tipudaya. Kegiatan eksplorasinya pun tak tanggung-tanggung. Sepanjang tahun 1998, misalnya, PT Freeport Indonesia menghasilkan agregat penjualan 1,71 miliar pon tembaga dan 2,77 juta ons emas (Lihat: Sabili edisi 16/Februari/2006). Tahun 1992 hingga 2002 Freeport memproduksi 5,5 juta ton tembaga, 828 ton perak dan 533 ton emas (Lihat: Catatan Departemen Energi dan Sumber Daya Alam). Dengan penghasilan itu Freeport mengantongi keuntungan triliunan rupiah sepanjang tahun.

Wajar jika hanya dalam kurun waktu dua tahun berproduksi (tahun 1973), Freeport yang dulunya perusahaan tambang kecil berhasil mengantongi perolehan bersih US$ 60 juta dari tembaga yang ditambangnya itu. Itu belum termasuk hasil tambang ikutannya seperti emas, perak, dan yang lainnya. Itu juga belum ditambah penemuan lokasi tambang baru (tahun 1988) di Pegunungan Grasberg yang mempunyai timbunan emas, perak, dan tembaga senilai US$ 60 juta miliar. Walhasil, sejak awal Freeport telah mengeruk dengan serakah kekayaan sumberdaya alam Papua pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Kedua: Pencemaran lingkungan juga menjadi persoalan yang serius. Penambangan oleh Freeport telah menghasilkan galian berupa potential acid drainase (air asam tambang) dan limbah tailling (butiran pasir alami yang halus hasil pengolahan konsentrat). Sehari-hari Freeport memproduksi tidak kurang dari 250 ribu metrik ton bahan tambang. Material bahan yang diambil hanya 3%-nya. Inilah yang diolah menjadi konsentrat yang kemudian diangkut ke luar negeri melalui pipa yang dipasang ke kapal pengangkut di Laut Arafuru. Sisanya, sebanyak 97% berbentuk tailing. Akibatnya, sungai-sungai di sana tidak lagi disebut sungai karena berwarna coklat lumpur tempat pembuangan limbah tailing. Limbah Freeport juga telah menghancurkan fenetasi hutan daratan rendah seperti yang terjadi di Dusun Sagu, masyarakat Kamoro di Koprapoka, dan beberapa dataran rendah di wilayah Timika. Selain itu, Danau Wanagon pernah jebol dan menelan korban jiwa karena kelebihan kapasitas pembuangan dan terjadinya perubahan iklim mikro akibat penambangan terbuka.

Sebuah lembaga audit lingkungan independen Dames & Moore melaporkan pada tahun 1996-dan disetujui oleh pihak Freeport-bahwa ada sekitar 3,2 miliar ton limbah yang bakal dihasilkan tambang tersebut selama beroperasinya. Faktanya, telah terjadi pencemaran dan linkungan baik hutan, danau dan sungai maupun kawasan tropis seluas 11 mil persegi.

Ketiga: Dampak sosial dari keberadaan Freeport tidak bisa dipandang remeh. Berlimpahnya dana yang beredar di sana justru melahirkan bisnis prostitusi. Ironisnya, dari tahun ke tahun, bisnis esek-esek ini cenderung meningkat. Sebagai misal di Timika, kota tambang Freeport, sebagaimana hasil investigasi sebuah LSM, disebutkan bahwa Timika adalah kota dengan penderita HIV/AIDS terbanyak di Indonesia (Lihat: Sabili, edisi 16/Februari/2006).

Kecurangan Freeport dalam Kontrak Karya

Kontrak Karya yang menjadi payung hukum bagi beroperasinya Freeport Indonesia sangat curang sehingga merugikan negeri ini. Bagaimana tidak? Kontrak Karya tersebut hanya mencantumkan soal tembaga saja, sementara emas, perak, dan yang lainnya tidak disebut secara definitif. Akibatnya, nilai keuntungan hasil penjualan hasil tambang selain tembaga-yang justru lebih besar lagi nilainya-tidak pernah dihitung. Padahal secara geologis tembaga, emas, perak, dan tambang penting lainnya tidak bisa dipisahkan. Belum lagi dalam Kontrak Karya tersebut sama sekali tidak dicantumkan kewajiban Freeport untuk menangani tailling. Walhasil, bisa kita bayangkan bagaimana sebenarnya akal-akalan Freeport dalam mengelabui dan membodohi kita lewat Kontrak Karya tersebut.

Kondisi ini bisa dimengerti karena Kontrak Karya tersebut merupakan hasil desain Freeport yang diadopsi sepenuhnya oleh Pemerintah Indonesia. Bahkan dalam Undang-Undang Pertambangan yang ada saat ini terdapat 'kontribusi besar' Freeport. Sebab, semua itu telah terulis dalam buku Freeport (Lihat: Sabili, edisi 16/Februari/2006). Bahkan Undang-Undang PMA (Penanaman Modal Asing) pun adalah hasil lobi Freeport. Walhasil, Freeport pada hakikatnya telah menempuh segala macam cara, baik legal maupun ilegal, untuk mewujudkan keinginannya walau mengorbankan rakyat Indonesia sekalipun.

Pemerintah Telah Abai Mengurusi Urusan Umat

Dalam Undang-Undang Dasar 1925 telah disebutkan bahwa air, laut, dan kekayaan alam yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara dan digunakan sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Pemerintah Indonesia secara sadar pada dasarnya telah 'membuka diri' untuk dijajah secara kekal oleh Barat (baca: AS). Tatkala tahun 2003 Kontrak Karya berakhir Pemerintah Indonesia justru memperpanjang kontrak tersebut selama 35 tahun lagi. Padahal sudah secara jelas betapa besar kerugian yang diderita oleh Pemerintah dan rakyat Indonesia ini. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa kondisi di atas terjadi karena Pemerintah Indonesia berada di bawah bayang-bayang tekanan AS. Sebaliknya, Pemerintah Indonesia justru mengubur dalam-dalam tujuannya untuk menyejahterakan rakyat.

Aset yang Bisa 'Menyelamatkan' Bangsa

Tambang di bumi Papua adalah potensi SDA yang luar biasa besar. Jika saja SDA itu dikelola dan dimanfaatkan secara optimal oleh negeri ini, niscaya ia akan bisa menyelesaikan berbagai problem ekonomi yang sedang melilit negeri ini. Sebagaimana yang dikatakan oleh Menteri BUMN, akibat pemblokiran Freeport oleh penduduk setempat Pemerintah Indonesia rugi 2,7 triliun setiap hari. Padahal kita tahu bahwa nilai tersebut baru dari 9% royalti dan sedikit pajak. Bagaimana jika kita tidak hanya mendapatkan royalti dan pajaknya saja, tetapi juga keuntungan/laba secara penuh. Jelas, Pemerintah Indonesia akan mendapatkan dana segar minimal Rp 73,71 trilun perbulannya atau setara dengan Rp 884,52 triliun pertahun. Sungguh, angka ini cukup untuk memberikan subsidi kepada rakyat sehingga BBM tidak perlu naik (Rp 10.5 triliun). Jika BBM tidak naik maka TDL pun tidak akan naik. Uang itu juga bisa digunakan untuk menutupi defisit APBN Rp 198 triliun), juga bisa digunakan untuk membayar utang (pokok dan bunganya sebesar Rp 159.7 triliun). Sisanya bisa digunakan untuk membiaya pendidikan gratis, biaya kesehatan murah, dan perumahan bagi rakyat.

Walhasil, tambang di bumi Papua adalah salah satu aset bangsa yang sangat strategis dan mampu dijadikan penopang bagi pelayanan masyarakat secara berkeadilan dan menyejahterakan. Namun, itu semua hanya menjadi fatamorgana jika dikelola oleh asing, bukan oleh bangsa sendiri.

Sikap yang Harus Diambil

Memperhatikan hal di atas, maka seluruh rakyat Indonesia semestinya menuntut Pemerintah untuk: Pertama, membatalkan kontrak karya dengan Freeport. Para pemimpin negeri ini haruslah punya 'nyali' untuk membatalkan Kontrak Karya tersebut. Islam memandang bahwa tatkala ada perjanjian yang tidak sesuai dengan hukum syariah maka perjanjian tersebut batal demi hukum. Artinya, hukum Islam secara otomatis menggugurkan perjanjian tersebut. Apalagi jika perjanjian tersebut dilakukan dengan negara yang telah dengan nyata memusuhi kaum Muslim (kafir harbi fi'lan). Jelas haram hukumnya menjalin hubungan sedikit pun dengan negara tersebut.

Pemerintah adalah pemimpin yang mengurus kepentingan rakyat, yang seharusnya mewujudkan kemaslahatan rakyat, bukan malah mengkhianati rakyat dan membuat mereka menderita! Rasulullah Muhammad saw. yang mulia telah bersabda:

»وَاْلإِِمَامُ الَّذِيْ عَلىَ النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ«

Imam yang memimpin manusia adalah laksana seorang penggembala; dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya. (HR Muslim).

Kedua: menolak cara-cara kapitalistik dan imperialistik dalam pengelolaan sumberdaya alam di Indonesia. Pengelolaan SDA yang eksploitatif dan merusak haruslah dicampakkan sebab itu hanya mementingkan golongan kapitalis tertentu dan segelintir pejabat saja. Sudah saatnya sistem Kapitalisme yang selama ini mencengkeram Indonesia dan menimbulkan kesengsaraan rakyat harus ditinggalkan.

Ketiga: sebagai gantinya, di Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim seharusnya diterapkan sistem pengelolaan sumberdaya alam yang adil, yakni sistem pengelolaan sumberdaya yang berlandaskan pada syariah dan dikelola secara mandiri. Lebih jauh lagi, harus ditolak pula sistem sekular (yang menjauhkan agama dari kehidupan) dalam semua aspek kehidupan yang selama ini terbukti gagal menciptakan tatanan hidup yang lebih baik. Di Indonesia seharusnya ditegakkan sistem yang tangguh, yakni sistem Islam yang mencakup seluruh aspek kehidupan.

Keempat: menyadarkan seluruh rakyat Indonesia, termasuk para pejabat yang mayoritas Muslim, bahwa sesungguhnya negeri ini tidaklah akan bisa keluar dari krisis yang membelenggu dan tidak akan mampu membebaskan diri dari segala kelemahan kecuali jika di negeri ini diterapkan syariat Islam secara kâffah. Dengan syariah itulah kita mengatur aspek ekonomi agar kesejahteraan sekaligus kemuliaan rakyat bisa dicapai, keamanan bisa ditegakkan, kedamaian bisa diwujudkan, dan kebahagiaan bisa dirasakan oleh seluruh rakyat.

Oleh karena itu, harus ada gerakan bersama untuk kembali pada ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan serta menetapkan pemimpin yang amanah, tidak korup dan bertindak culas. Syariat Islam bukanlah kewajiban segelintir orang atau kelompok, melainkan kewajiban kita bersama dan demi kebaikan semua.

Sungguh, hanya melalui syariat Islam dan pemimpin yang amanah sajalah kita bisa mewujudkan kehidupan bermasyarakat dan bernegara secara baik. Allah SWT berfirman:

]وَِللهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لاَ يَعْلَمُونَ[

Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Allah, milik Rasul, dan milik orang-orang Mukmin. Akan tetapi, orang-orang munafik itu tidak mengetahuinya. (QS al-Munafiqun [63]: 8). []

posted by Asep @ 2:46 PM   5 comments
KHILAFAH HANYA KONSTRUKSI HISTORIS TURKI UTSMANI?

Pada hari Sabtu, 25 Pebruari 2006 pukul 08.30-10.30, ust M. Shiddiq al-Jawi diundang mewakili Hizbut Tahrir Indonesia pada acara LK-3 (Latihan Kader ke-3), yang diselenggarakan PB HMI (MPO) di SMP Muhammadiyah Condong Catur Yogya. Beliau menggantikan Jubir HTI, Ust Ismail Yusanto yang berhalangan hadir. Selain HTI, yang diundang juga adalah MMI (Majelis Mujahidin Indonesia), yang diwakili ust Abdullah.

Acara yang diikuti oleh 7 (tujuh) kader HMI dan dipandu Maslahul Falah ini, dimulai dengan paparan masing-masing pembicara dengan sub tema adalah “Bangunan Khilafah dan Studi Terhadap Upaya Penegakan Syariah di Indonesia.” sedang tema besarnya adalah “Persinggungan Islam dengan Modernitas.”

Shiddiq mencoba menguraikan posisi Hizbut Tahrir (HT) dan Khilafah dalam kaitannya dengan proses perubahan sosial (social engineering) yang ada. Kata Shiddiq, untuk bisa melakukan perubahan sosial, seorang individu atau kelompok setidaknya harus memahami 3 (tiga) hal. Pertama, pandangan terhadap realitas yang tengah ada. Kedua, pandangan terhadap kondisi ideal yang diharapkan. Ketiga, metode yang digunakan untuk mengubah realitas yang ada menuju kondisi ideal.

Selanjutnya, urai Shiddiq, setiap ideologi punya perspektif sendiri mengenai proses perubahan yang diinginkan. Dalam kapitalisme, perubahan masyarakat ditujukan untuk mengubah masyarakat tradisional menuju masyarakat modern, dengan proses sekularisasi, sebagaimana yang terjadi di Barat. Dalam Sosialisme, perubahan yang diusahakan adalah dari masyarakat
kapitalis menuju masyarakat sosialis, melalui proses perjuangan kelas, sebagaimana terjadi di Rusia. Sedang dalam Islam, perubahan yang ada dimaksudkan mengubah masyarakat tidak Islami menuju masyarakat Islami, melalui dakwah Islam, sebagaimana terjadi pada Rasulullah ketika mengubah masyarakat tidak Islami (Makkah) menuju masyarakat Islami di Madinah.

Di sinilah, Daulah Islamiyah –atau selanjutnya Khilafah-- dapat dipahami posisinya, yakni sebagai kondisi ideal yang diharapkan di masa depan, mengikuti Rasulullah dalam membentuk masyarakat Islam di Madinah. Dan posisi HT adalah sebagai aktor dan penggerak dalam proses perubahan masa kini, melalui aktivitas dakwah Islam, berteladan pada contoh Rasul
tersebut.

Shiddiq berpesan kepada para kader HMI, agar jangan salah memilih perubahan sosial. “Kita harus mengikuti perubahan yang dicontohkan Rasul, karena Rasul adalah uswatun hasanah bagi umat Islam,” tegas Shiddiq sambil mengutip ayat-ayat yang mewajibkan umat Islam meneladani Rasul.

Dalam sesi tanya jawab, seorang kader putera HMI bertanya antusias kepada Shiddiq, bahwa perjuangan HTI itu tidak dapat dibenarkan, karena masih menginginkan kekuasaan. “Padahal Rasul itu kan tidak punya keinginan berkuasa, tidak punya ego. Lha ini kok HT ingin kekuasaan. Itu kan tidak benar!” demikian kritiknya. Selain itu, peserta tersebut juga mengatakan,”Khilafah itu kan sekedar konstruksi historis dari sejarah Khilafah Turki Utsmani.” Dia menambahkan, “Rasulullah juga tidak pernah menyebut istilah Khilafah Islamiyah!”

Adanya pertanyaan yang menyerang dan tajam ini, menjadikan suasana diskusi yang semula datar dan bahkan dingin ini (maklum pas turun hujan) kontan menjadi hangat dan memanas. Shiddiq al-Jawi pun menjawab dengan lugas, jelas, dan bersemangat kepada para peserta. Kata Shiddiq, “Bahwa Rasul tidak menginginkan kekuasaan, itu tidak benar, sebab tidak
sesuai dengan fakta yang ada. Rasul kan pernah melakukan aktivitas thalabun nushrah (mencari pertolongan) kepada 14 kabilah Arab untuk memperoleh kekuasaan. Akhirnya Rasulullah memperoleh nushrah dari Auz dan Khazraj.” Shiddiq tak lupa menganjurkan para peserta untuk mempelajari sirah nabawiyah dan tidak terjebak pada paradigma sekuler yang mencoba memisahkan domain agama dan domain kekuasaan.

Mengenai pernyataan bahwa Khilafah sekedar konstruksi historis Turki Utsmani, Shiddiq juga membantahnya. “Kita harus sepakati dulu, kita mau bicara pada dataran normatif atau historis. Kalau secara historis, benar bahwa Khilafah itu mewujud dalam sejarah. Tapi tidak benar kalau dikatakan konsep atau ajaran Khilafah itu diambil dari sejarah. Sebab Khilafah itu
diambil dari Qur`an dan Hadis, bukan dari sejarah,” tandas Shiddiq. Lalu dijelaskan pula oleh Shiddiq,”Semisal itu adalah sholat. Mungkin mbah-mbah kita dulu sudah melaksanakan sholat. Itu benar secara historis. Tapi tentu tidak benar kalau kita katakan ajaran sholat itu hasil kostruksi sejarah mbah-mbah kita. Sebab sholat itu didasarkan pada wahyu (Qur`an dan Hadis), bukan pada sejarah mbah-mbah kita.”

Shiddiq juga menyampaikan di luar kepala hadis-hadis sahih bahwa Rasul pernah menyebut kata “khalifah” dan “Khilafah” dalam berbagai sabdanya. Tak lupa Shiddiq menganjurkan para peserta untuk belajar ilmu hadis.

Ketika mendengarkan jawaban Shiddiq ini, peserta yang bertanya terlihat resah dan duduknya tidak bisa tenang seakan-akan ada duri di pantatnya. Entah apa yang dipikirkannya. Mungkin jengkel dan mangkel sebab argumen-argumennya dapat dipatahkan dengan telak.

Namun Shiddiq dengan bijaksana lalu menutup jawabannya dengan berkata,”Maaf,ya, kalau jawabannya keras. Beginilah a Hizbut Tahrir. Agresif.” Di penutupan acara yang berlangsung cair dan akrab, Shiddiq menghimbau para peserta agar tidak segan berdiskusi dan berdebat dengan Hizbut Tahrir.

[KANTOR HUMAS HTI DIY].

posted by Asep @ 2:32 PM   1 comments
Profil
Profil Facebook Asep Firman
Buat lencana kamu sendiri
Tentangku
My Photo
Name:
Location: Kelapa Gading, Jakarta, Indonesia

Manusia biasa yang sedang meretas jalan untuk meraih ridho Illahi

Banner 1
Banner 2
Udah Lewat
Arsip Lama
Sekilas Info


.:AGENDA & REGARD:.
Akhir-akhir ini banyak berkutat dengan soal-soal UAS, maklum bentar lagi UAS kan...hehehe..
Afwan, kepada siapa saja kalau akhir-akhir ini saya kurang respon karena kondisi kesehatan agak terganggu nich...mudah-mudahan tidak mengurangi ukhuwwah kita..

Shillah Ukhuwwah
Pengingat Waktu

Anda Pengunjung Yang Ke :

Counter Stats
travel insurance
travel insurance Counter -->

Link Website

Bahan Renungan


.:Wise Words:.
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS. Al Maidah 50)

Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.(Qs. Thahâ [20]: 124).

Dia-lah (Allah) yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkan di atas segala agama-agama walau pun orang-orang musyrik benci. (QS Ash-Shaff [61] : 9)

Apabila kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan akan meneguhkan kedudukan kalian di muka bumi. (TQS Muhammad:7)

Sesungguhnya Allah Swt. berfirman,"Barangsiapa menghinakan wali (kekasih)-Ku, ia telah terang-terangan memusuhi-Ku. Wahai Anak Adam, engkau tidak akan mendapatkan apa saja yang ada pada-Ku kecuali dengan melaksanakan perkara yang telah Aku fardhukan kepadamu. Hamba-Ku yang terus-menerus mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan melaksanakan ibadah sunah, maka pasti Aku akan mencintainya. Maka (jika Aku telah mencintainya) Aku akan menjadi hatinya yang ia berpikir dengannya; dan Aku menjadi lisannya yang ia berbicara dengannya; dan Aku menjadi matanya yang ia melihat dengannya. Jika ia berdo'a kepada-Ku, maka pasti Aku akan memberinya. Jika ia meminta pertolongan kepada-Ku, maka pasti Aku akan menolongnya. ibadah hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah memberikan nasihat(Dikeluarkan oleh ath-Thabrani dalm Kitab al-Kabir)

Backsound


Afiliasi
15n41n1
 Blognya Indonesian Muslim Blogger?E