Tuesday, June 27, 2006
URGENSI MEWUJUDKAN LINGKUNGAN POLITIK ISLAM DAN MEMBENTUK NEGARAWAN SEJATI[i]

Oleh : Asep Firman Y.[ii]


PENDAHULUAN

Munculnya berbagai krisis kehidupan dalam berbagai aspek di Indonesia khususnya dan dunia Islam secara umum bukanlah sesuatu yang gejala yang alami, tapi merupakan konsekuensi dari penerapan sebuah sistem yang secara pasti mengarah ke krisis tadi. Sebut saja krisis ekonomi yang melanda Indonesia yang diawali oleh krisis moneter pada akhir tahun 1997. Krisis moneter ini diakibatkan oleh politik pembangunan yang didasarkan kepada utang yang bersifat ribawi. Direktur International Center for Applied Economics and Finance (Inter CAFE) IPB Iman Sugema menyatakan bahwa berdasarkan hasil penelitian Inter CAFÉ, ternyata jumlah utang tidak menimbulkan pertumbuhan ekonomi. Itu berarti bahwa utang yang masyarakat Indonesia warisi sejak 40 tahun yang lalu tidak menyebabkan terjadinya peningkatan kemampuan membayar kembali utang tersebut sehingga akibatnya sekarang merasa terbebani (Media Indonesia, Rabu 21 Juni 2006).[iii] Kalau kita kaji lebih dalam ternyata semuanya berakar pada sistem kapitlistik yang diterapkan di negeri kita ini. Utang merupakan instrumen ekonomi yang dijadikan perangkap oleh negara-negara kapitalis Barat untuk membuat negara-negara dunia ketiga (termasuk Indonesia) bergantung pada mereka yang pada akhirnya terbentuklah pola hubungan interdependensi dari negara dunia ketiga kepada negara-negara Barat.

Kemiskinan, kebodohan, pendzoliman, peningkatan kriminalitas, kemerosotan moralitas adalah simptom-simptom dari diterapkan sistem hidup yang didasarkan pada paham kapitalisme, hal ini pun terjadi di negeri-negeri Islam yang mengadopsi sistem ini baik sebagian-sebagian ataupun secara "kaaffah", termasuk didalamnya Indonesia. Diakui ataupun tidak, dengan membuka mata kita, maka kita akan dapatkan bahwa sistem hidup inilah yang menjadi acuan hidup bermasyarakat dan bernegara negeri zamrud khatulistiwa ini.

Kondisi buruk yang menimpa negeri zamrud khatulistiwa ini diperparah oleh sikap oportunistik para politikusnya yang begitu mudah dapat dipengaruh oleh politik uang, status atau jabatan, yang mengakibatkan tidak terurusnya kemaslahatan-kemaslahatan masyarakat yang sejati menjadi tugas para politisi ini. Sikap masyarakat yang apatis dan "cuek bebek" terhadap kondisi mereka yang rusak pun memperburuk suasana hidup masyarakat ini yang berujung pada langgengnya sistem yang jelas-jelas membawa kemadharatan dan kerusakan bagi mereka.

Lantas kalau demikian adanya, apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkan masyarakat yang adil makmur sejahtera dan diridhoi oleh Allah yang merupakan impian dan cita-cita setiap muslim dimana mereka adalah bagian terbesar dari penduduk negeri ini? Pastilah penerapan syari'ah Islam adalah satu-satunya jalan yang bisa mewujudkan semua itu. Mungkin muncul pertanyaan, kenapa harus Islam? Secara empiris kita dapat lihat kegagalan sosialisme yang coba diterapkan pada masa kepemimpinan Soekarno dengan konsep Nasakom dan Demokrasi terpimpinnya gagal. Demikian pula dengan Kapitalisme Liberal yang diterapkan pada era kepepimpinan Soeharto dengan menggunakan konsep Demokrasi pancasila dan ekonomi pembangunan Trickle Down Efect (efek rembesan). Disisi lain konsep Islam yang merupakan datang dari sisi Sang Khaliq telah berhasil mewujudkan masyarakat yang ideal selama kurang lebih dar 7 abad. Hal ini tertulis dengan tinta emas dalam catatan-catan sejarah umat Islam bahkan inipun diakui oleh para sejarawan Barat yang objektif. Seperti penggalan kata yang dilontarkan oleh MICHAEL H. HART:

Jika ada agama yang berpeluang menguasai Inggris bahkan Eropa - beberapa ratus tahun dari sekarang, Islam-lah agama tersebut." Saya senantiasa menghormati agama Muhammad karena potensi yang dimilikinya. Ini adalah satu-satunya agama yang bagi saya memiliki kemampuan menyatukan dan merubah peradaban. Saya sudah mempelajari Muhammad sesosok pribadi agung yang jauh dari kesan seorang anti-kristus, dia harus dipanggil 'sang penyelamat kemanusiaan. Saya yakin, apabila orang semacam Muhammad memegang kekuasaan tunggal di dunia modern ini, dia akan berhasil mengatasi segala permasalahan sedemikian hingga membawa kedamaian dan kebahagiaan yang dibutuhkan dunia: Ramalanku, keyakinan yang dibawanya akan diterima Eropa di masa datang dan memang ia telah mulai diterima Eropa saat ini.[iv]

Secara normatif kita yakin bahwa pengingkaran terhadap syari'ah ini hanya berujung pada kesengsaran dan kesempitan hidup baik di dunia apalagi di akherat kelak. Sebagaimana ancaman Allah dalam surat Thaha ayat 124.[v]….. Hanya saja, penerapan syari'ah Islam tidak akan terwujud kalau tidak ada upaya untuk mewujudkan lingkungan politik Islam dan didukung oleh sikap negarawan dari setiap muslim. Oleh karena itu yang menjadi titik kajian dan fokus diskusi kita pada kesempatan ini adalah tentang urgensi mewujudkan lingkungan politik Islam dan mewujudkan negarawan-negarawan muslim yang diridhoi oleh Allah SWT.

MEMAHAMI LINGKUNGAN POLITIK DAN URGENSINYA

Lingkungan politik diartikan sebagai lingkungan orang-orang yang senantiasa mengikuti berbagai berita, aktivitas dan peristiwa politik untuk memberikan pandangan politik mereka dalam rangka mengurus kepentingan umat sesuai dengan pandangan mereka tersebut. Dengan kata lain lingkungan politik merupakan lingkungan para politisi baik penguasa maupun bukan atau lingkungan tempat mereka hidup dan melakukan berbagai aksi politik.[vi]

Sesungguhnya bentuk dan warna dari sebuah lingkungan politik sangat dipengaruhi oleh ideologi yang diyakini oleh orang-orang yang hidup di sebuah lingkungan politik tersebut. Suasana kebebasan (liberalisme) dan kapitalisme adalah ciri yang menonjol dalam lingkungan politik negara yang berideologikan kapitalisme dimana pemenuhan keinginan individual adalah cita-cita tertinggi bagi mereka wajar kalau sikap melawan pemerintah dengan menjadi oposisi dan kritik tajam yang agresif adalah merupakan suatu yang tak terpisahkan dari potret kehidupan mereka. Hal ini dapat kita temukan di negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat dan bahkan saat ini hampir seluruh negara di dunia menganut hal yang sama walaupun dalam bentuk dan varian yang berbeda., ini tergantung taraf berpikir dan kesadaran masyarakat tentang ideologi yang digunakan oleh negaranya.

Lain halnya dengan suasana lingkungan politik yang mendominasi kehidupan Uni Soviet sebelum terpecah, yakni ketika mereka menjadikan sosialisme-komunisme sebagai ideologi negara. Kehidupan politisi dipenuhi oleh tujuan untuk mencapai cita-cita kolektif (kelompok) bukan individu. Perhatian mereka adalah perlindungan kelompok dan mereka memandang pihak lain sebagai musuh dan lawannya. Dan ini sangat bertolak belakang dengan sistem kapitalisme dimana suasana penentangan (menjadi oposan) di dalam negeri hal yang lumrah bahkan sebuah keharusan dengan membuat rencana-rencana terstruktur dan juga terhadap negara-negara lain, walaupun sama-sama negara kapitalis.

Lain kapitalisme, lain sosialisme, lain pula dengan Islam. Lingkungan politik Islam sangat dipengaruhi oleh suasana keimanan (jawwul iman). Dimana politik dipahami sebagai bagian dari aktivitas ibadah. Setiap orang dapat bahkan wajib untuk hidup dilingkungan politik ini baik peran dia sebagai penguasa ataupun rakyat biasa. Semua orang beraktivitas dalam lingkungan politik dengan tujuan akhir mendapatkan keridhoan Allah SWT. Aqidah Islam menjadi asas dalam memberikan pandangan-pandangan politik.

Terdapat 'kesamaan' antara Islam dan Kapitalisme dalam hal siapa saja yang dapat beraktivitas politik dan ini berbeda dengan apa yang ada dalam sistem sosialisme-komunisme. Bentuk 'kesamaan' ini yaitu lingkungan politik di negara yang menganut kapitalisme seperti Amerika tidak terbatas hanya kepada para pemerintah dan orang-orang yang mengurusi kepentingan rakyatnya saja, tetapi bersifat terbuka mencakup penguasa dan selainnya, termasuk kepada orang-orang yang mengurusi kepentingan rakyat, baik secara praktis maupun yang mengungkapkan melalui lisan dan pemikiran. Demikian pula adanya dalam Islam. Berbeda dengan yang terdapat di Rusia pada masa Komunis, karena di Rusia tidak ditemukan sikap berseberangan (oposisi) terhadap pemerintah atau kepada negara lain tidak dimungkinkan. Hanya perlu digarisbawahi disini, yang dimaksud dengan 'persamaan' Islam dan kapitalisme hanya dalam hal siapa saja yang bisa masuk lingkungan politik ini saja. Dengan demikian tidak boleh melakukan simplifikatif, dengan menyatakan Islam adalah kapitalisme atau kapitalisme adalah Islam. Karena satu sama lain sangat berbeda dari sisi asas maupun cabangnya. Tidak ada kesamaan baik dekat maupun jauh. Dengan demikian yang dimaksud dengan lingkungan politik yang menjadi bahasan kita adalah lingkungan politik yang memungkinkan bagi setiap individu untuk eksis didalamnya. Lingkungan politik ini tidak bersifat eksklusif hanya untuk penguasa, tapi dia bisa dimasuki oleh setiap orang, tidak hanya penguasa tapi semua masyarakat umum.

Kalau kita menelaah secara jujur, saat ini tidak ada satu wilayah pun di dunia yang terdapat di dalamnya lingkungan politik Islam. Hal ini wajar karena lingkungan ini hanya akan terwujud ketika aturan atau sistem yang digunakan oleh negara adalah sistem Islam. Maka dapat dipastikan bahwa saat ini memang tidak ada lingkunga politik Islam. Ketiadaan ini tidak menafikan bahwa Islam mempunya konsep tersendiri berkaitan dengan lingkungan politik ini. Karena secara historis kita dapatkan bagaimana Rasulullah SAW dan para sahabat yang mulia mereka hidup ditengah-tengah lingkunga politik Islam. Bahkan ini terus berlanjut hingga berakhirnya kekhilafah terakhir pada awal abad-20 dengan runtuhnya Turki Utsmani dan digantikan oleh sistem Republik Sekuler yang merupakan hasil konspirasi Yahudi Dunama bernama Mustafa Kemal at-Taturk laknatullahi 'alaihi dengan pemerintah Inggris.

Walapun saat ini sistem politik Islam tidak diterapkan bukan berarti menciptakan lingkungan politik Islam tidak perlu. Karena perubahan akan selalu terjadi, demikian pula khilafah islamiyah pun insya Allah dalam waktu dekat akan segera berdiri sebagaimana janji Allah SWT, selain tentunya inipun menjadi kewajiban bagi setiap muslim dan lebih lagi mereka yang selama ini terus memperjuangkannya. Maka penggambaran tentang lingkungan politik Islam perlu adanya sebagaimana penggambaran kehidupan khilafah khususnya bagi kalangan aktivis Islam dan umumnya seluruh kaum muslimin.

Upaya untuk menggambarkan lingkungan politik Islam sebagaimana yang ada masa lalu dapat dilakukan dengan pertama mempelajari realita-realita lingkungan politik, kedua mempelajari pemikiran-pemikiran politik Islam. Dari sana dapat kita pahami bahwa langkah pertawa untuk mewujudkan lingkungan politik Islam ini dengan cara membentuk sekelompok orang yang senantiasa mengikuti berbagai berita, aktivitas, dan peristiwa politik di dunia. Para politisi ini mengikuti berbagai berita dan aktivitas politik di dunia dengan maksud agar dapat memahaminya, dan kemudian berupaya mengurus kepentingan umat sesuai dengan pemahaman tersebut dan berlandaskan sudut pandang Islam.
Ada empat persyaratan yang harus dimiliki oleh orang yang berkeinginan menjadi seorang politisi dan mampu beraktivitas untuk merealisasikan lingkungan plotitik dan berfungsi didalamnya :
1. Mempunyai informasi mengenai berita dan aktivitas politik
2. Melakukan analisis tentang berita dan aktivitas politik tersebut
3. Memberikan pendapatnya tentang berita dan aktivitas politik kepada umat
4. Pendapatnya tersebut harus berasal atau berlandaskan suatu sudut pandang tertentu tentang kehidupan.


Perlu mendapat perhatian bahwa saat ini negara-negara Barat telah berupaya memalingkan umat Islam untuk mengikuti peristiwa-peristiwa politik dengan berbagai cara misalnya membelokan isu-isu atau membuat even-even yang menarik.[vii]Atau bahkan dengan menghindarkan setiap muslim untuk tidak terjun ke dunia politik.[viii] Tak jarang pula peluang bagi setiap aktivis Islam untuk menyampaikan pendapat sesuai dengan islam pun dihalangi. Dalam lingkungan politik Barat kita akan temukan lingkungan yang rusak dan korup. Prinsip yang digunakan adalah mengikuti prinsip-prinsip yang dikemukan oleh Machiavelli, yakni tujuan menghalalkan segala cara. Untuk menghancurkan lingkungan rusak seperti ini memang bisa dari luar lingkungan itu, akan tetapi akan lebih produktif kalau masuk ke dalam lingkungan itu.

Hal yang tidak bisa diabaikan adalah penciptaan lingkungan politik di negeri-negeri kaum muslimin. Betul memang lingkungan politik Islam akan muncul pada saat negara Islam ditegakkan. Akan tetapi memasuki lingkungan politik sebelum negara Islam tegak adalah suatu keharusan bagi aktivis Islam ini karena memasuki lingkungan politik sama artinya dengan berjuang merealisasikan Islam dalam kehidupan. Betul bahwa para politisi yang ada di negeri-negeri kaum muslimin tidak mempunyai pengaruh kuat di dunia sebagaimana para politisi Barat. Akan tetapi mereka cukup punya pengaruh ditengah-tengah kehidupan rakyat. Dimana mereka mempunyai kecerdasan, pengetahuan, dan keahlian yang cukup yang membuat mereka lebih dari rakyat. Mereka juga mempunyai kepandaian dan kemampuan berimprovisasi untuk menyesuaikan diri terhadap berbagai keadaan. Sangat mungkin orang-orang seperti ini menjadi orang pertama di negara Islam, sekaligus menjadi pemimpin pergerakan. Sangat jelas mereka tidak memiliki kejujuran dan pandai bersembunyi di balik topeng kemunafikan, oleh karenanya pengaruh mereka harus dihabisi untuk melindungi diri para aktivis Islam yang ikhlas dari ancaman mereka.

Sebagai cerminan kita dapat melihat upaya penciptaan lingkungan politik di Mesir oleh Amerika dengan berupaya menghapuskan lingkungan politik yang diciptakan sebelumnya oleh negara Inggris tapi tidak bisa sampai merubahnya secara total. Rasulullah saw ketika memasuki kota Madinah dan berkuasa disana, beliau menghapuskan lingkungan politik yang ada sebelumnya. Begitu juga ketika beliau menaklukan kota Mekkah, beliau menghapuskan pengaruh orang-orang yang menguasai lingkungan politik sebelumnya.

Perlu diperhatikan bahwa tidak cukup hanya membangun lingkungan politik islam yang terdiri dari para politisi muslim yang jujur, punya kesadaran, dan bukan dari kalangan munafik. Tapi juga harus ada upaya mengikuti dan menganalisis mberbagai berita dan peristiwa politik, sehingga dapat membangun lingkungan politik. Karena kalau tidak, maka orang-orang yang pernah terlibat dalam lingkungan politik kufur dan mampu bertahan hidup, akan lebih mampu memimpin, menciptakan, dan memasuki berbagai lingkungan politik. Bila demikian, maka bibit-bibit kehancuran negara sudah tercipta sejak awal negara itu berdiri. Dengan demikian keharusan saat ini bukan hanya menciptakan politisi-politisi muslim yang jujur dan penuh kesadaran tetapi juga keharusannya untuk masuk dan menciptakan lingkungan politik Islam

Betul bahwa Rasulullah saw menciptakan lingkungan politik pada saat beliau hijrah ke Madinah dan berkuasa disana. Tapi jauh sebelum hijrah para sahabat ketika masih di Mekah mereka berupaya untuk masuk lingkungan politik saat itu. Perdebatan antara Abu Bakar dan para pemimpin Quraisy mengenai konflik bangsa Persia dan Romawi merupakan upaya kaum muslimin memasuki lingkungan politik.

Walhasil, upaya mengikuti berita, menganalisisnya, memberikan pendapat mengenai berita tersebut, serta memberikan pendapat tersebut selalu berdasarkan sudut pandang tertentu (Islam), akan menjadikan mereka sebagai politisi muslim yang jujur yang mewakili umat pada masa sekarang dan masa depan. Wallahu a'lam bish shawab.

MEWUJUDKAN NEGARAWAN MUSLIM SEJATI

Sebelumnya kita telah membahas tentang wadah dan tempat beraktivitas dalam rangka mewujudkan dan merealisasikan sistem Islam, selanjutnya pembahasan kita masuk kepada bahasan peran yang harus dimainkan oleh setiap muslim dalam kehidupan, khususnya kehidupan dalam bermasyarakat dan bernegara, baik sebelum berdiri Daulah Islam atau pun sesudah berdirinya. Pembahasan ini berkaitan dengan fungsi setiap orang Islam sebagai seorang negarawan.

Secara singkat yang dimaksud dengan negarawan disini adalah seorang pemimpin politik yang kreatif dan inovatif. Ia adalah seorang yang mempunyai mentalitas pemimpin (leadership) dan mampu mengatur urusan kenegaraan, menyelesaikan permasalahan, serta mengendalikan hubungan pribadi dan urusan umum.[ix]


Keumuman masyarakat beranggapan bahwa negarawan adalah penguasa atau orang-orang yang memerintah suatu Negara, sehingga mereka memberikan julukan tersebut kepada kepala negara, perdana menteri, dan posisi-posisi pemerintahan lainnya. Mereka tidak memberikan julukan tersebut kepada orang lain. Pemahaman tentang negarawan ini merupakan pemahaman yang tidak benar karena tidak sesuai dengan kenyataan (realitas). Penguasa bisa saja seorang negarawan, namun bisa juga bukan. Sebaliknya, seorang biasa dapat menjadi seorang negarawan, meskipun ia tidak melaksanakan tugas-tugas pemerintahan. Dapat saja seorang petani di sawah, seorang karyawan, di suatu pabrik, seorang pedagang, seorang guru, atau seorang mahasiswa aktif menjadi seorang negarawan. Jadi yang jadi perhatian disini adalah kriteria bukan satus atau jabatan yang dipegang seseorang.

Sungguh kalau kita melihat realitas sejarah umat Islam secara objektif, kita akan dapatkan bahwa Negara Islam sejak didirikan mempunyai banyak tokoh yang mempunyai mentalitas, watak, dan prilaku seorang negarawan. Hal ini berlangsung lebih dari enam abad hingga keruntuhan Khilafah Abbasiyah. Namun demikian keberadaan individu-individu negarwan masih berlangsung hingga pertengahan abad ke-18. Ketika pengembangan watak negarawan berkurang maka jumlah negarawan pun semakin sedikit, bahkan tempat tumbuh kembangnya negarawan tersebut akhirnya hilang. Umat Islam tidak dapat lagi menghasilkan orang-orang yang bermental negarawan di tengah-tengah mereka.

Perlu diketahui bahwa mentalitas negarawan akan tumbuh apabila terdapat hal-hal berikut ini :
1. Ia harus memiliki sudut pandang tertentu dalam kehidupannya (pandangan hidupnya), berupa pemikiran yang menyeluruh
2. Ia harus memiliki suatu sudut pandang tertentu yang dapat menjamin tercapainya kebehagiaan hakiki dalam realitas kehidupan
3. Ia harus memiliki suatu peradaban (hadlarah) tertentu yang mampu mengangkat manusia dalam keadaan yang luhur, bentuk kehidupan yang tertinggi, serta aspek pemikiran yang tertinggi, dipadukan dengan nilai-nilai luhur dan ketentraman abadi

Bagi umat Islam ketiga persyaratan tersebut diatas cukup banyak tersedia dalam bentuk buku-buku maupun buah pikiran para ulama. Kaum muslimin tinggal menterjemahkannya dalam aspek-aspek kehidupan praktis.

Agar kaum muslimin bangkit kembali maka harus mencari jalan dan meningkatkan kalangan negarawan dari kalangan umat Islam. Ini dapat dicapai dengan cara membina mereka dengan tsaqofah politik yang berlandaskan kepada aqidah Islam, yang merupakan pemikiran yang menyeluruh tentan manusia, kehidupan dan alam semesta. Bila tsaqofah ini mnyebar luas di kalangan kaum muslimin dan terwujud dalam kehidupan mereka maka tempat tumbuh para negarawan itu akan tercipta. Dengan demikian seorang negarawan tidak harus berarti penguasa, tetapi merupakan pemimpin politik yang kreatif, yang tumbuh dari umat. Negarawan bukanlah orang yang mendapatkan kedudukan melalui pemilihan umum, kudeta militer, atau melalui kekayaan, sementara ia tidak peduli terhadap apa yang terjadi disekitarnya, serta tidak mampu melihat apa yang terjadi di depan matanya.

Seorang negarawan bila ingin sampai pada kekuasaan (pemerintahan) maka ia harus melibatkan dirinya dalam masalah-masalah umat disekitarnya, negerinya dan daerahnya. Kemudian ia memperoleh kekuasaan setelah kemampuannya dikenal oleh masyarakat. Ia dapat memperoleh kekuasan melalui pemilihan umum, meskipun hal ini hanya dapat terjadi pada Negara-negara yang rakyatnya memiliki pemahaman yang lurus.

Ketika kaum muslimin menerapkan Islam secara kaaffah dan membina dengan Islam, mereka menghasilkan ribuan orang yang berkualitas negarawan. Beberapa diantara mereka memegang kendali pemerintahan, seperti Umar bin Khtatab (ra), Ali bin Abi Thalib (ra), al-Mu’tasim, Shalahuddin al-Ayyubi, dan Muhammad Al-Fatih. Banyak diantara mereka tetap seperti orang biasa tanpa jabatan pemerintahan, seperti Ibnu Abbas, al-Ahnaf bin Qays, Ahmad bin Hambal, serta Ibnu Taimiyah. Mereka semua adalah hasil tempaan aqidah islamiyah, mengikuti jalur politik, melaksanakan kewajibannya atas seluruh umat manusia dalam arti senantiasa memandu umat dan menyampaikan seruan Islam pada mereka, menerapkan aturan Islam kepada umat serta bertanggung jawab atas kepentingan internal umat sebagaimana ucapan Umar bin Khtattab :
Andaikan ada seekor hewan melata di wilayah Irak yang kakinya terperosok di jalan, aku takut Allah akan meminta pertanggungjawabanku karena tidak memperbaiki jalan tersebut.


Sangat disayangkan saat ini umat Islam tidak memiliki sosok-sosok pemimpin dan negarawan seperti yang mereka miliki dahulu kala. Ini berawal ketika ‘penyakit’ melanda mereka, termasuk penyakit ketiadaan sosok negarawan. Di sisi lain kita dapatkan bahwa muncul di tengah-tengah umat para pemimpin rakyat yang mereka tidak satupun memiliki sikap-sikap kenegarawanan. Mereka tidak mampu memikirkan, merencanakan, dan melaksanakan urusan-urusan umat. Sebaliknya, mereka menyerahkan urusan dan kepentingan umat kepada Negara-negara adidaya, serta membiarkan Negara-negara adidaya tersebut menguasai berbagai sumberdaya negeri-negeri kaum muslimin. Sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW :
Akan datang kepadamu masa penuh tipudaya, di mana orang-orang akan mempercayai kebohongan dan mendustakan kebenaran, dan mereka mempercayai para pengkhianat dan tidak mempercayai para pembawa keenaran. Pada masa itu, ruwaibidlah akan berbicara. Mereka (para shahabat) bertanya, Dan apakah itu ruwaibidlah? rasulullah berkata: Riwaibidlah adalah orang-orang bodoh, (yang berbicara) tentang urusan umat.[x]

KHATIMAH

Kini negeri-negeri kaum muslimin ini sedang menunggu datangnya para Pemimpin muslim sejati; tentunya para pemimpin yang memiliki kualitas nakhoda yang handal; dia adalah negarawan yang mengetahui dengan jelas kemana rakyat mau dibawa serta mampu memilihkan bahtera yang tepat untuk itu, yaitu syariat Islam di dalam Daulah Khilafah Islamiyah.

Tugas dari mayarakat tidaklah berhenti ketika sang negarawan didapatkan. Tugas mereka berlanjut dengan melakukan kontrol agar sang negarawan sebagai nakhoda tetap memandu bahtera ke arah yang benar, dan dengan cara yang benar. Kontrol sosial ini juga diperlukan sehingga tidak ada seorang penumpang pun yang mencoba melubangi bahtera dari dalam, dengan niat apapun.

Dengan sinergi inilah, insya Allah, persoalan-persoalan yang mendera umat ini, dan kasus-kasus yang susul-menyusul, akan dapat diatasi dengan benar, dan kisah sedih umat ini benar-benar bisa berakhir.

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang salih di antara kalian bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. (QS an-Nur [24]: 55). [] Wallahu a’lam bish shawab

[i] Makalah, disampaikan sebagai bahan diskusi interaktif pada acara Landing Pemikiran Politik Islam (LPPI) yang diadakan oleh Lembaga Studi Politik Islam (LSPI) UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Sabtu, 24 Juni 2006.
[ii] Penulis adalah Mantan Ketua Biro P3SDP pada Laboratorium Dakwah DKM Universitas Padjadjaran Bandung, sekarang aktif sebagai Ketua Departemen Politik HTI Cabang Sumedang dan anggota Departemen Politik HTI Daerah Jawa Barat.
[iii] Lebih lanjut , berdasarkan penelitian Inter CAFE, bahwa menurut data pengeluaran proyek yang dibiayai utang luar negeri pada tahun 2001 dan 2002, terlihat jelas bahwa yang memperoleh manfaat terbesar adalah pihak asing sendiri. Antara 35% sampai dengan 90% dari utang dibelanjakan untuk membiayai pengadaan barang dan jasa yang diimpor Indonesia. Selain itu, Indonesia juga harus membayar mahal konsultan asing yang under qualified. Lebih-lebih Indonesia terikat akan keharusan membeli barang dari vendor asing dengan harga 30% sampai 50% diatas harga pasar. Belum lagi Indonesia harus memperhitungkan cost korupsi yang sudah menjadi budaya negeri ini. Lihat Opini Media Indonesia edisi 21 Juni 2006 berjudul Utang Simbol Negara Gagal ditulis oleh Iman Sugema.
[iv] Lihat MICHAEL H. HART dalam THE 100: A RANKING OF THE MOST INFLUENTIAL PERSONS IN HISTORY, New York, 1978
[v] Allah SWT berfirman dalam surat Thaha ayat 124, yang artinya : Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (ad-Dzikr [nama lain dari al-Qur'an]), niscaya akan ditimpakan kepadanya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.
[vi] Lihat Pemikiran Politik Islam (terj.) Abdul Qadim Zallum, 2004 : hal.131
[vii] Sarana yang sering digunakan adalah dalam bentuk sesuatu yang menarik perhatian dunia seperti World Cup, konser-konser musik, peragaan busana dan lain-lain
[viii] tak heran kalau diantara umat Islam ada yang menganggap politik itu identik dengan kekotoran sehingga harus dijauhi. Karena agama adalah suatu yang suci maka tidak boleh membawa agama untuk urusan politik
[ix] Lihat Pemikiran Politik Islam (terj.) Abdul Qadim Zallum, 2004 : hal.121
[x] THR. Ibnu Majah, dari Abu Hurairah ra.

posted by Asep @ 9:53 PM   0 comments
Profil
Profil Facebook Asep Firman
Buat lencana kamu sendiri
Tentangku
My Photo
Name:
Location: Kelapa Gading, Jakarta, Indonesia

Manusia biasa yang sedang meretas jalan untuk meraih ridho Illahi

Banner 1
Banner 2
Udah Lewat
Arsip Lama
Sekilas Info


.:AGENDA & REGARD:.
Akhir-akhir ini banyak berkutat dengan soal-soal UAS, maklum bentar lagi UAS kan...hehehe..
Afwan, kepada siapa saja kalau akhir-akhir ini saya kurang respon karena kondisi kesehatan agak terganggu nich...mudah-mudahan tidak mengurangi ukhuwwah kita..

Shillah Ukhuwwah
Pengingat Waktu

Anda Pengunjung Yang Ke :

Counter Stats
travel insurance
travel insurance Counter -->

Link Website

Bahan Renungan


.:Wise Words:.
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS. Al Maidah 50)

Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.(Qs. Thahâ [20]: 124).

Dia-lah (Allah) yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkan di atas segala agama-agama walau pun orang-orang musyrik benci. (QS Ash-Shaff [61] : 9)

Apabila kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan akan meneguhkan kedudukan kalian di muka bumi. (TQS Muhammad:7)

Sesungguhnya Allah Swt. berfirman,"Barangsiapa menghinakan wali (kekasih)-Ku, ia telah terang-terangan memusuhi-Ku. Wahai Anak Adam, engkau tidak akan mendapatkan apa saja yang ada pada-Ku kecuali dengan melaksanakan perkara yang telah Aku fardhukan kepadamu. Hamba-Ku yang terus-menerus mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan melaksanakan ibadah sunah, maka pasti Aku akan mencintainya. Maka (jika Aku telah mencintainya) Aku akan menjadi hatinya yang ia berpikir dengannya; dan Aku menjadi lisannya yang ia berbicara dengannya; dan Aku menjadi matanya yang ia melihat dengannya. Jika ia berdo'a kepada-Ku, maka pasti Aku akan memberinya. Jika ia meminta pertolongan kepada-Ku, maka pasti Aku akan menolongnya. ibadah hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah memberikan nasihat(Dikeluarkan oleh ath-Thabrani dalm Kitab al-Kabir)

Backsound


Afiliasi
15n41n1
 Blognya Indonesian Muslim Blogger?E